Meteor Biru Bentuk Lafadz Allah Jatuh di Cirebon

Meteor Biru Bentuk Lafadz Allah Jatuh di Cirebon

planetarium.montreal.qc.ca

TEMPO Interaktif, Cirebon - Benda langit yang diduga meteor jatuh di sebuah tanah lapang di dalam Pabrik Gula (PG) Tersana Baru, Kecamatan Babakan, Kabupaten Cirebon pada Rabu (18/8) malam. Benda langit tersebut menimbulkan bau belerang yang menyengat.

Meteorit yang jatuh di halaman dalam PG Tersana Baru menyebabkan rumput terbakar. Bahkan, bekas jatuhnya meteorit membentuk lubang dengan diameter sekitar 1 meter.

Seorang karyawan PG Tersana Baru, Dudi, menjelaskan awalnya karyawan mendengar suara gemuruh. "Suara itu diakhiri dengan suara benturan yang amat kencang," katanya. Karena penasaran, para karyawan pun mencari sumber suara yang ternyata di sebuah lapang yang ada di dalam pabrik.

Mereka pun kaget karena menemukan dan melihat sebuah benda langit berwarna biru terang tengah meleleh. "Bahkan benda langit itu sempat terlihat membentuk lafadz Allah," katanya. Benda langit yang meleleh itu pun meleleh dan melebar serta membakar rerumputan di lokasi. Lelehan itu akhirnya mengering dan membentuk seperti aspal cair yang mengering.

Karena bau belerang yang menyengat, warga yang datang ke lokasi pun akhirnya menutup jatuhnya lokasi meteorit dengan menggunakan pasir. "Maksudnya supaya bau menusuk bisa hilang," kata Dudi.

Baik karyawan PG Tersana Baru dan warga yang berdatangan sempat mengabadikan peristiwa langka tersebut menggunakan kamera telepon selular. Bahkan ada warga yang membawa pulang bongkahan meteorit tersebut. Polisi yang datang kemudian mengumpulkan bongkahan meteorit tersebut untuk diteliti lebih lanjut.

IVANSYAH



Update Inilah Rekaman Benda Langit yang Jatuh di Cirebon Itu


BERITA TERPOPULER LAINNYA:

MUI: Yang Menentukan Kafir Itu Allah, Bukan Orang

Meteor Biru Berberntuk Lafadz Allah Jatuh di Cirebon

Kapolda: Perampok Bank Niaga Dilakukan Profesional

Induk Umat Manusia Hidup 200 Ribu Tahun Lalu

NU-Muhammadiyah Sepakat Koruptor itu Kafir

Kenapa Masa Jabatan Presiden Perlu Dibatasi?

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Wajib Baca!
X