Puluhan Wartawan Sukabumi Nyatakan Tolak Aksi Intimidasi

TEMPO Interaktif, Sukabumi - Puluhan wartawan di Sukabumi melakukan aksi unjuk rasa menolak tindak kekerasan yang dilakukan terhadap dua wartawan yang sedang melaksanakan tugas jurnalistik, Kamis (19/8), di Alun-alun Kota Sukabumi, Jawa Barat.

Mereka mengutuk keras tindakan yang dilakukan oknum petugas Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Ubrug yang merampas kartu indentitas dan menyekap wartawan grup MNC, serta perampasan kartu identitas wartawan Radar Bogor oleh oknum guru di salah satu sekolah.

Unjuk rasa yang sempat mengundang perhatian warga dan dijaga oleh aparat Kepolisian Resor Sukabumi itu ditandai dengan aksi lempar kartu identitas, kartu pers, dan kamera sebagai bentuk menolak kekerasan dan intimidasi. "Kami menolak tindakan kekerasan dan intimidasi oleh pihak lain terhadap profesi kami," ujar Fitriansyah, koordinator aksi.

Menurut Fitriansyah, aksi puluhan wartawan media cetak dan elektronik itu merupakan protes atas peristiwa penyanderaan dan pelecehan terhadap Wilda Topan, wartawan RCTI saat meliput kasus pekerja PLTA yang nyaris tewas tersengat arus listrik saat mengecat tower milik PLTA Ubrug di Warungkiara, Kabupaten Sukabumi.

Saat itu Wilda disekap di pos satpam, serta kartu identitas dan kunci sepeda motornya dirampas. Selain Wilda Topan, wartawan Radar Bogor, Sri Sumartini, juga mendapatkan perlakuan yang sama saat meliput di Sekolah Dasar Negeri Suryakencana Sukabumi.

Sri dirampas kartu identitas kemudian diusir saat melakukan konfirmasi terkait adanya pungutan liar yang dilakukan oleh pihak sekolah tersebut. "Ada tindakan yang mengarah pada kekerasan dan pelecehan profesi jurnalistik," kata Fitriansyah di Sukabumi, Kamis (19/8).

Selain melakukan aksi, para wartawan juga melakukan deklarasi menolak kekerasan dan intimidasi profesi. Setelah deklarasi selesai, para wartawan itu akhirnya membubarkan diri.

DEDEN ABDUL AZIZ