foto

Masjid Agung Sumenep

Beribadah Sambil Melek Sejarah Masjid Agung Sumenep  

TEMPO Interaktif, Sumenep - Salah satu manfaat jika bangunan bersejarah terawat dengan baik yaitu bisa mengenalkannya kepada anak sejak usia dini. Inilah tampaknya yang dilakukan Syaifullah, penarik becak di Kabupaten Sumenep. Setiap malam, warga Desa Pandian ini, selalu mengajak anaknya tarawih di Masjid Agung Sumenep yang bersejarah.

"Dari pada waktu habis nonton televisi, mending dibawa tarawih ke sini. Biar dia tahu sejarah masjid agung Sumenep," katanya, saat ditemui Tempo, Kamis (19/8).

Karena pengetahuannya tentang sejarah Masjid Agung Sumenep minim, Syaifullah hanya mengatakan masjid tersebut dibangun oleh Raja Sumenep berjuluk penembahan Sumolo yang bergelar Pangeran Natakusuma I. "Tapi saya yakin, sampai dewasa anak saya akan ingat itu," ujarnya.

Syaifullah juga mengajarkan anaknya rajin menaruh infak di masjid yang dirampung dibangun tahun 1787. Meski sedikit, kata dia, infak akan berguna untuk perawatan masjid kebanggaan warga Sumenep tersebut.

Saat berkunjung ke Masjid Agung Sumenep kesan penuh sejarah memang langsung menyergap saat melihat pintu gerbang masjid yang mirip pintu masuk keraton dengan dua pintu kayu besar.

Bentuk atap masjid yang bertingkap, mirip bangunan candi pulau Jawa. Kesan itu semakin kuat saat masuk ke ruang utama masjid. Ukiran pada jendela, tiang, pintu hingga keramik di dindingnya mencerminkan perpaduan tradisi lokal dan tradisi luar seperti China, India, hingga Persia. Terutama ukiran pada mimbar masjid yang sudah berusia 799 tahun, begitu multi budaya mencerminkan kemajemukan kehidupan masyarakat jaman dahulu.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumenep Mohammat Natsir mengatakan masjid tersebut dibangun setelah pembangunan keraton Sumenep rampung. Pembangunan masjid dipimpin arsitek asal Cina Lauw Piango, cucu dari Lauw Khin Thing, salah satu dari enam orang Cina yang pertama menetap di Sumenep.

"Bangunan asli masjid bagian tengah, beberapa tahun lalu sempat mengalami perluasan," tuturnya.

MUSTHOFA BISRI