Pekerja menyeleksi telur ayam negeri asal Blitar di grosir telur di Bandung, Rabu (17/6). Harga telur eceran di tingkat grosir hari ini kembali melambung sampai Rp12.500/kg, kenaikan mencapai Rp 500/kg. Foto: TEMPO/Prima Mulia
Topik
Telur Paling Laris di Pasar Murah
TEMPO Interaktif, Makassar - Dalam waktu kurang dari satu jam, sekitar 100 rak telur habis diborong masyarakat yang mengunjungi pasar murah di Anjungan Pantai Losari, yang dibuka Gubernur Sulawesi Selatan, Syahrul Yasin Limpo, pagi tadi. Telur ini dijual lebih murah daripada harga pasaran.
“Hari ini kami jual Rp 20 ribu per rak atau per 30 butir,” kata Syamsul Bachri, Kepala Bidang Pengembangan Usaha Dinas Peternakan Sulawesi Selatan. Harganya lebih murah karena mendapat subsidi dari pemerintah provinsi dan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sulawesi Selatan. Adapun harga telur di pasar tradisional antara Rp 27-28 ribu per rak. Sementara harga telur dari peternak Rp 25.500.
Syamsul menambahkan bahwa pihaknya menyiapkan 300 rak telur, khusus dijual pada pasar murah yang diadakan hingga 5 hari mendatang ini.
Ketua Kadin Sulawesi Selatan, Zulkarnain Arief tidak mernyebutkan berapa besar dana yang dianggarkan untuk mengadakan pasar murah ini. “Rata-rata kami subsidi 30 persen dari harga pasar,”ujarnya. Ia mengharapkan sekitar 15 ribu warga bisa ikut menikmati pasar murah ini.
Gubernur mengatakan pasar murah ini menunjukkan stok bahan pokok di Sulawesi Selatan kuat dan dapat dikontrol baik oleh pemerintah. “Kami harap distributor dapat mempertahankan harga,” ucapnya. Namun ia mengatakan belum memberi sanksi khsusu kepada distributor atau pedagang yang berspekulasi harga. “Dengan pasar murah, hal ini sudah bisa menurunkan harga secara otomatis di pasar,” tambah Syahrul.
Sebanyak 21 stan ikut meramaikan pada pasar murah kali ini. Selain telur, mereka juga menyiapkan bahan kebutuhan pokok lainnya seperti beras, minyak goreng, dan gula.
Ila, seorang ibu rumah tangga mengaku sangat tertarik dengan harga telur di sini. "Mumpung murah, jadi saya beli. Selain telur, harga terigunya juga murah," katanya. Selain membeli telur, ia juga membeli sejumlah bahan pokok lainnya, seperti minyak goreng, terigu, gula, susu dan sirup.
Pantauan Tempo, stan beras tak seramai stan telur dan pangan pokok lainnya.Kepala Divisi Regional VII Bulog, Rito Angky Pratomo mengatakan stan beras yang tak selaris telur berarti menandakan beras di masyarakat telah terdistribusi dengan baik. Menurutnya pembelian beras tidak dilakukan setiap hari seperti kebutuhan pangan lain.
Harga beras yang ditawarkan di pasar ini juga jauh lebih murah. Seperti jenis beras membramo yang disiapkan, harganya di pasaran mencapai Rp 6 ribu per kilogram, tapi hari ini, Bulog menjualnya seharga Rp 4 ribu per kilogram. Menurut Rito, pasar murah seperti ini efektif bagi masyarakat yang membutuhkan bahan pokok yang murah.
FADHILAH NAZIF





