Petugas pengawasan obat dan makanan Badan POM dengan mobil laboratorium memeriksa jajanan takjil untuk menu buka puasa di tempat penjualan makanan di Jalan Mappanyuki, Makassar (17/8). Pemeriksaan dilakukan untuk mengetahui zat-zat kimia yang terkandung di dalamnya. TEMPO/Fahmi Ali
Topik
Ditemukan Jajanan Puasa Mengandung Zat Pewarna Penyebab Kanker
TEMPO Interaktif, Makassar - Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Makassar kembali menemukan jajanan berbuka puasa yang tak layak konsumsi karena bahan berbahaya. Pada memeriksa jajanan diPasar Pabaeng Baeng, sore tadi, BBPOM menemukan empat jenis jajanan memakai zat pewarna yang mengandung Rhodamin B atau pewarna tekstil berwarna merah.
Jajanan tersebut adalah sagu mutiara, kue lapis, durian kukus, dan kue lapis merah putih. Ada 3 sampel sagu mutiara yang terbukti mengandung zat pewarna berdasarkan temuan BBPOM.
“Dari 3 pedagang yang kami beli, ketiga-tiganya terbukti berbahaya,” kata Fitri, staf Seksi Layanan Informasi Konsumen BBPOM setelah melakukan penelitian bersama staf peneliti di Pasar Pabaeng Baeng.
Dalam pengawasan ini, BBPOM melakukan pengujian 11 sampel jajanan yang biasanya dijual pada bulan Puasa. “Makanan yang kami jadikan sampel yang memiliki warna merah dan kuning mencolok,” ucap Fitri.
Dia mengatakan, rhodamin B merupakan zat pewarna yang dilarang untuk digunakan dalam makanan karena dapat menyebabkan penyakit kanker jika dikonsumsi dalam jangka waktu panjang.
“Karena itu masyarakat perlu berhati-hati dalam memilih jajanan buka Puasa,” katanya.
Setelah menemukan adanya zat berbahaya dalam jajanan tersebut, BBPOM langsung memberitahu kepada penjualnya agar tidak menerima jenis makanan serupa dari orang yang menitipkan.
Febrianti, seorang pedagang jajanan buka puasa mengaku tidak mengetahui apakah ada zat pewarna berbahaya atau tidak dalam sagu mutiara yang dititipkan di kiosnya. “Kami akan berhenti kalau ada zat yang berbahaya,” katanya.
Febrianti mengaku tidak mengetahui asal dari sagu mutiara yang dijualnya. “Ini bapak saya yang punya, saya cuma jaga,” kata dia.
Dalam sehari, ia mendapatkan titipan sekitar 20 bungkus sagu mutiara, seharga Rp 1500 per bungkus.
FADHILAH NAZIF





