indonesia
INDONESIA
english
ENGLISH
rss
twitter
facebook
youtube
youtube
youtube

Gunung Sinabung, Favorit Para Pendaki

Gunung Sinabung, Favorit Para Pendaki

Gunung Sinabung. id.wikipedia.org

TEMPO Interaktif, Medan - Bagi pecinta alam Gunung Sinabung, di Kabupaten Tanah Karo, kerap menjadi pilihan untuk melakukan kegiatan di alam terbuka. Selain ketinggiannya, 2.460 meter di atas permukaan laut, begitu menantang. Kemiringan mencapai 70 derajat, menjadi salah satu tantangan bagi pendaki untuk mencapai puncak.


Rakhmi Alfitri Purba masih mengenang keindahan gunung berapi aktif itu. Ketua Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Negeri Medan, Sumatera Utara, tersebut terakhir “menggauli” Sinabung, akhir 2009. “Kegiatan menjelang tahun baru bersama kawan-kawan Mapala,” Kata Rakhmi dalam perbincangan dengan Tempo, Minggu (29/8) malam.

Lokasi itu, lanjut dia, menjadi favorit bagi pendaki di Sumatera Utara. “Untuk jelang pergantian tahun. Melihat matahari di hari pertama pergantian tahun,” tutur Rakhmi.

Dari ketinggian dua ribu meter, Rakhmi mengaku dapat menatap keindahan alam Tanah Karo, Sumatera Utara. Dibandingkan Gunung Sibayak, masih berada di wilayah Kabupaten Tanah Karo, Sinabung adalah yang paling disukai pendaki. “Sinabung lebih menantang didaki, kalau Sibayak sudah menjadi lokasi wisata,” tutur Rakhmi.

Selain kedua gunung yang sangat akrab dengan para pendaki. Rakhmi menyebutkan satu lokasi lagi yang berada di Sumatera Utara. “Gunung Sibuatan. Ini yang paling tinggi dibanding Sinabung atau Sibayak,” ungkap Rakhmi. Hanya saja, Sibuatan berada di Kabupaten Dairi, lebih sering disebut deleng. “Orang menyebutnya deleng.”

Kecelakaan dan nyawa melayang saat melakukan pendakian menjadi bagian tak terpisahkan dari kegiatan itu. Sama halnya di Sinabung, tutur Rakhmi, sudah banyak kisah pendaki yang hilang dan tak ditemukan. “Ada yang hilang tapi ditemukan selamat,” katanya.

Selain kecadasan menuju puncak Sinabung, menjadi daya tantangan bagi pendaki. Panorama Sinabung menciptakan ketenteraman dan menikmati keindahan tersendiri. “Di kaki Gunung Sinabung ada danau yang indah,” ungkapnya.

Lau Kawar, danau yang disebut Rakhmi, kerap dijadikan lokasi berkemah bagi mereka yang tak ingin mencapai puncak Gunung Sinabung. Untuk menikmati keindahan yang menakjubkan, Rakhmi menyarankan agar mencapai puncak Sinabung. “Di sana ada kawah api,” ujarnya.

Tiap kali menikmati malam di Gunung Sinabung, Rakhmi kerap beradaptasi dengan udara yang bercampur belerang. “Kita tahu Gunung Sinabung dan Sibayak itu gunung berapi yang aktif,” katanya. Hanya saja, kenang Rakhmi, selama menaklukan ketinggian gunung dan menyambangi malam, ia dan rekannya tak pernah merasakan geteran dari aktivitas di perut gunung. “Tidak pernah, palingan hanya bau belerang dari kawahnya,” ujar Rakhmi yang terus mengikuti perkembangan Gunung Sinabung.

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Surono menyebutkan Gunung Sinabung, gunung berapi tipe B. Sejak tahun 1600 gunung tersebut tak menunjukkan tanda-tanda meletus.

Minggu (29/8) dinihari, abu vulkanik dan larva pijar menyembur dari kawah berapi. Tanda-tanda meletusnya gunung semula dirasakan warga, sehari sebelum meletus.

SOETANA MONANG HASIBUAN


Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Wajib Baca!
X