Seorang petugas dari pengawasan pesawat di Soekarno-Hatta sedang memperhatikan keberangkatan dan kedatangan pesawat di lokasi bandara, Tangerang, Selasa (20/4). TEMPO/Aditia Noviansyah
Topik
Sistem Radar Bandara Soekarno Hatta Diganti
TEMPO Interaktif, Jakarta -Pemerintah memutuskan untuk mengganti sistem radar di bandara internasional Soekarno Hatta karena usianya yang sudah tua. Kondisi radar yang uzur itu diduga sebagai penyebab matinya radar Bandara Internasional Soekarno Hatta pada Minggu (29/8), sehingga sejumlah penerbangan terganggu.
"Sehingga kami simpulkan bahwa alat ini harus segera diganti," kata Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Mustafa Abubakar di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Selasa (31/8).
Radar yang difungsikan di bandara pada saat ini merupakan bagian dari Jakarta Automated Air Traffic System (JAATS), yang diperkirakan sudah ada sejak tahun 1985.
Dana untuk penggantian radar direncanakan berasal dari APBN dan dana komersial perusahaan. Penggantian radar akan memakan biaya hingga Rp 800 miliar. "Ada dana APBN sekitar Rp 200 miliar. Kalau perlu Rp 500-600 miliar, kita sediakan dari Angkasa Pura II," kata Mustafa.
Kalau pendanaan hanya mengandalkan APBN, diperkirakan pengadaan baru dapat selesai di 2013. Namun, karena kondisi yang mendesak, akhirnya pemerintah juga akan mengupayakan pendanaan dari komersial sehingga pengadaan radar baru ditargetkan sudah dapat dilakukan pada 2011.
Selain pengadaan radar baru, pemerintah juga akan memperkuat SDM untuk pengoperasian sistem baru tersebut. "Kami akan melakukan training yang lebih intensif, kemudian melakukan recruiting yang sesuai dengan peralatan baru dan sistem baru," kata Mustafa.
Sembari menunggu alat yang baru, juga akan dilakukan refreshing sistem yang lama. Dari sebelumnya refreshing dilakukan dua bulan sekali, akan ditingkatkan menjadi satu bulan sekali atau dua minggu sekali.
Pemerintah juga sudah meminta manajemen PT Angkasa Pura I dan PT Angkasa Pura II untuk melakukan kajian, apakah ada bagian lain yang bermasalah selain radar. "Akan dilakukan audit secara cepat dan menyeluruh agar kita bisa melakukan deteksi dini. Jangan sampai ada kecolongan lagi terhadap keteledoran atau kelemahan alat yang sudah ada," kata Mustafa.
EVANA DEWI





