foto

Gayus Tambunan (kiri) dan Kompol M Arafat Enanie (kanan) saat menjadi saksi pada persidangan dengan terdakwa AKP Sri Sumartini terkait kasus mafia hukum di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa (3/8). TEMPO/Yosep Arkian



Kombes Eko Sempat Protes Dikasih Rp 50 Juta

TEMPO Interaktif, Jakarta - Haposan Hutagalung, eks pengacara Gayus Tambunan yang juga operator bancakan duit Gayus ternyata pernah mendatangi Komisaris Besar Polisi Eko Budi Sampurno. Kepada Kepala Uni VI Money Laundering Direktorat II Ekonomi Khusus Mabes Polri itu, Haposan memberikan uang senilai RP 50 jita. 

Namun Eko protes karnea hanya mendapat Rp 50 juta. Uang pemberian Haposan itu, adalah ongkos hasil pencairan uang Gayus senilai Rp Rp 28 miliar. Kesaksian itu disampaikan Komisaris Polisi Arafat Ernanie dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jumat 3September 2010.

Arafat menceritakan, awalnya ia melihat Haposan memasuki ruang kerja Eko di Mabes. Tak lama setelah Haposan keluar, Eko berkata pada Arafat. "Enak saja saya mau dikasih Rp 50 juta. Emang saya ini apa?" kata Eko saat itu.

Eko kemudian menasehati Arafat agar tidak ikut menerima uang dari Haposan. "Kamu jangan sekali-kali dapat dari dia. Kita ini punya harga diri," ujar Arafat menirukan ucapan Eko, di hadapan Majelis Hakim yang diketuai Haswandi.

Mengetahui penolakan Eko, Arafat kemudian menghubungi Haposan. Ia berinisiatif menyampaikan keluhan Eko. "Kata Haposan, Kanit saya salah paham, bukan Rp 50 juta, tapi US$ 50 ribu (yang akan diberikan Haposan)," kata Arafat.

Setelah itu, Arafat mengabarkan pada Eko, hasil pembicaraannya dengan Haposan. "Pak, kata Haposan bukan Rp 50 juta, tapi US$ 50 ribu," ujar Arafat. Entah tak percaya pada laporan Arafat, Eko bersikukuh yang ditawarkan Haposan padanya Rp 50 juta.

Haposan, kata Arafat, mengatakan akan langsung menyampaikan masalah pembagian fulus pada atasan Eko, Direktur II Ekonomi Khusus, Brigjend Pol Raja Erizman. Namun Arafat mengaku tak tahu menahu bagaimana hasil pertemuan Haposan dengan Raja Erizman. "Saya tidak tahu. Saya tidak lihat."

Isma Savitri