Topik
Ketupat Anak Perawan Pada Hari Lebaran
TEMPO Interaktif, SUMENEP - Tangan Rofiqo tampak cekatan merangkai dua lembar daun janur. Meski matanya sesekali menyaksikan tayangan televisi, tidak sampai dua menit, sebuah rangkaian ketupat sudah dirampungkannya. Dia tampak gembira, dan meneruskan pekerjaannya.
Ketupat yang yang sudah dikerjakannya diserahkan kepada neneknya, Hana, 53 tahun, yang duduk di sampingnya. Sang nenek bertugas menyempurnakan bentuk ketupat agar tak bocor saat diisi beras. "Ini namanya ketupat tojuk (duduk), karena bagian bawahnya lebar dan rata," ujar Hana, warga Desa Telaga, Kecamatan Ganding, Sumenep, Jawa Timur, kepada Tempo yang bertandang ke rumahnya, Minggu (5/9).
Menurut penuturan Hana, sudah menjadi tradisi di kampungnya, anak-anak memang sudah dilatih sedini mungkin membuat ketupat. Rofiqo, cucu perempuannya itu, meski baru duduk di bangku kelas empat sekolah dasar, sudah bisa membuat ketupat.
Ketelatenan bocah-bocah di Desa Telaga membuat mereka mahir merangkai ketupat meski hanya dalam hitungan jam. Hana bahkan memuji sang cucu yang sudah cekatan membuat ketupat meski baru diajarkan sehari sebelumnya. "Supaya tahu tradisi leluhur, kelak dia juga bisa mengajarkannya kepada anaknya," ucap Hana pula.
Kemahiran warga Desa Telaga dalam membuat ketupat sudah amat dikenal. Syahwari, tetangga Hana, bahkan disebut sebagai pakar ketupat. Di serambi rumahnya, tampak beragam jenis ketupat yang tengah dirampungkan. Selain ketupat duduk, ada ketupat bantal, ketupat berupa seekor kuda, serta ketupat berbentuk kubah masjid.
Mengerjakan ketupat yang menyerupai hewan dan bubah masjid, memang butuh ketrampilan yang lebih karena memiliki tingkat kesulitan lebih tinggi, dan menghabiskan janur yang lebih banyak. "Kalau mau belajar, maksimal seminggu sudah bisa membuat ketupat kubah masjid," papar Syahwari.
Menyiapkan ketupat, juga beragam hidangan yang menyertainya pada hari raya lebaran, sudah jamak dilakukan warga di berbagai daerah di Indonesia. Namun, bagi warga desa di Kabupaten Sumenep, berbagai ikhwal unik mewarnai dibalik tradisi ketupat.
Mukminah, 62 tahun, warga Desa Gading Timur, Kecamatan Gading memaparkan kisah menarik, yakni kelebihan ketupat yang dibuat oleh anak perawan. Itu sebabnya, meski anak lelaki, seperti yang menjadi keahlian Syahwari, juga pandai membuat ketupat, tapi ketupat yang dibuat anak perawan memiliki khasiat tersendiri.
Beragam kelebihan ketupat anak perawan, antara lain, tidak cepat basi alias tahan lama. ”Bisa bertahan lebih dari seminggu,” kata Mukminah. Selain itu, bentuknya ranum dan padat. Bahkan, ketika dimakan tidak ingin segera berhenti. Bukan lantaran belum merasa kenyang melainkan karena terdorong untuk terus menyantapnya.
Mukminah hanya tertawa ketika ditanya khasiat lainnya. Namun dari penuturan nenek ini, begitu pentingnya melengkapi hidangan dengan ketupat buatan anak perawan. Sebab, keluarga yang tak memiliki anak perawan menitipkan ketupat kosong ke rumah tetangga atau sanak famili yang memiliki anak perawan untuk diisi beras dan dimasak. “Paling sedikit 10 ketupat,” kisah Mukminah.
Ketupat yang dititipkan untuk ditangani anak perawan tetangga atau sanak famili tersebut, ternyata memberikan khasiat yang sama pada ketupat lainnya yang sudah dibuat sendiri oleh sebuah keluarga yang tak punya anak perawan. “Karena 10 ketupat itu, ketupat lainnya juga bisa awet,” kata Mukminah. MUSTHOFA BISRI.





