Majid Sehitlik di Berlin, Jerman (webmastergrade.com)
Lebih Khusyuk Puasa 18 Jam di Jerman
TEMPO Interaktif, - Berpuasa di negara yang mempunyai empat musim tentu banyak tantangannya. Sebab, waktu puasanya berbeda setiap tahun—tergantung musimnya. Pada musim dingin waktu puasa lebih singkat, hanya 10 jam. Waktu sahur berakhir pukul 06.00 dan pukul 16.00 sudah buka puasa. Enak memang, tapi harus hati-hati karena keluyuran di udara bersuhu minus 10 derajat Celsius dengan perut kosong ibarat menantang penyakit.
Pada musim kelabu seperti ini, jangankan berpuasa, tidak puasa pun banyak orang yang tumbang diterjang virus influenza—dari yang ringan sampai yang berat seperti bronkitis. Ini memang ciri-ciri musim dingin. Untuk mengantisipasi, banyak orang meningkatkan daya tahan tubuhnya dengan asupan makanan bergizi plus vitamin. Atau, lebih banyak tinggal di dalam rumah.
Lain halnya pada saat musim panas. Waktu imsak pada pukul 03.00 dan waktu buka pukul 21.00. Delapan belas jam! Tak aneh kalau badan menjadi lemas. Tahun ini, puasa di Jerman jatuh pada musim panas.
Di Eropa, musim panas berkisar antara pertengahan Mei sampai pertengahan September. Alhasil, warga muslim di Jerman mesti bangun dinihari supaya tidak kelewatan waktu sahur.
“Jelas mengantuk, tapi saya mesti bangun menyiapkan makanan untuk sahur,”kata Yanna, 63 tahun. Perempuan asal Lampung yang bekerja di klinik kecantikan di Kota Braunschweig ini biasa sahur dengan selembar roti panggang dan secangkir kopi.“Lumayan buat ganjal pe
rut."Banyak warga asal Indonesia yang belum terbiasa sahur sederhana ala mancanegara.
Musim panas tahun ini temperaturnya berkisar antara 16-23 derajat Celsius. Langit mendung, angin dingin, dan hujan turun hampir sepanjang hari. Cuaca yang tak lazim di kala musim panas--seperti di Indonesia."Kerja enggak terasa tahutahu sudah waktu berbuka,"kata Kepala Bagian Penerangan Konsulat Jenderal RI di Hamburg,Yayat Sugiatna.
Bulan sebelumnya panas amatlah terik. Bahkan di beberapa kota, seperti Muenchen dan Koeln, suhunya tembus hingga 39 derajat Celcius. Kelembaban yang amat rendah membuat orang mudah letih. Apalagi, waktu istirahat malam menciut. Bayangkan, waktu salat isya baru mulai pukul 23.00.
Kalau mau salat tarawih 8 rakaat dan witir 3 rakaat, baru selesai tengah malam. Padahal dua jam kemudian harus sudah bangun lagi, bagi yang mau melaksanakan salat tahajud sebelum sahur."Mau dibilang berat, ya berat,"kata Hidayat, salah satu calon dokter di Hannover Medical School.“Kuliah pagi, selesai sore.”
Karena panjangnya waktu puasa, tak sedikit yang terpaksa berhenti di tengah jalan bila sudah tak sanggup lagi.“Kalau tak kuat, terpaksa saya batalkan puasanya,”ujar Susi, salah satu mahasiswi berjilbab Fakultas Seni Rupa di Frankfurt, tertawa.“Nanti pas musim dingin baru saya bayar.”
Sedangkan Rizky Mira Harini, 27 tahun, justru merasa lebih afdol menjalankan puasa di Jerman. Insinyur teknologi pangan, yang sudah delapan tahun bermukim di negeri ini beralasan di Jakarta ibadahnya tak maksimal karena mesti menghadiri undangan buka puasa.“Hampir setiap hari. Ibadah jadi tak maksimal karena tubuh sudah lelah,” katanya.
Mira, yang tinggal di Hannover, mengaku kini sudah bisa melaksanakan salat-salat sunah dengan tertib dan khusyuk bersama suaminya.
“Sebelum sahur kami biasanya salat isya dan tarawih,”ujar Mira, yang menyiasati waktu buka puasa yang jatuh pada pukul 21.30.“Jadi setelah magrib kami langsung naik ke peraduan.”
SRI P BAUMEISTER (JERMAN)





