jantung
Topik
Lari Marathon Diperkirakan Tidak Menyebabkan Kerusakan Jantung
TEMPO Interaktif, Berlin- Sebuah studi yang mempelajari 167 pelari amatir pada Berlin Marathon 2006 dan 2007 menurunkan kekhawatiran bahwa jenis kegiatan ini mengarah ke kerusakan jantung yang berkelanjutan. Hal tersebut berdasarkan presentasi pada Kongres Masyarakat Kardiologi se-Eropa 2010 di Stockholm.
Marathon menjadi sebuah tantangan yang semakin populer bagi pelari amatir yang ingin menguji ketahanan mereka pada jarak 26 mil. Komunitas kedokteran, bagaimanapun, telah lama prihatin tentang dampak marathon terhadap jantung –dan itu belum ditunjukkan jika efeknya bervariasi pada golongan umur dan jenis kelamin yang berbeda.
Dalam usaha meningkatkan pemahaman akan hal ini, Charite-Universitatsmedizin Berlin melakukan penelitian mengenai efek lari marathon pada pelari amatir tua. Penelitian dilakukan selama Marathon Berlin 2006 dan 2007. Totalnya, 167 pelari tua yang rata-rata berusia 50 tahun dipantau. Semua pelari tersebut sebelumnya telah menyelesaikan setidaknya satu marathon penuh. Mereka menjalani tes ekokardiografi menggunakan peralatan terbaru, dan memberikan sampel darah sesaat sebelum dan setelah perlombaan. Mereka dipantau lagi setelah dua minggu. Secara spesifik, pengukuran diambil dari fungsi diastolic dan sistolik ventrikel sebelah kiri, fungsi sistolik ventrikel sebelah kanan dan biomarker jantung.
Hasil analisis menunjukkan bahwa meskipun ada beberapa catatan efek sesaat setelah balapan, keadaan kembali normal setelah dua minggu. Ketua tim penelitian, Dr. Fabian Knebel, menyimpulkan bahwa kekhawatiran orang tentang lari marathon menyebabkan kerusakan jantung berkelanjutan tampak tidak berdasar.
“Penelitian kami melihat pada pelari amatir dengan rata-rata usia 50 tahun, bukan atlet elite, dan ini menunjukkan bahwa dua minggu setelah marathon, kunci parameter kembali ke tingkat normal,” papar Dr. Knebel.
Sesaat setelah menyelesaikan marathon, terdapat beberapa perubahan signifikan dari parameter diastolik dan fungsi jantung sebelah kanan. Bagaimanapun, meski perubahan ini secara statistik sangat signifikan, mereka semua dalam tingkat normal dan karenanya tidak tampak relevan secara klinis. Semua parameter kembali ke keadaan normal dua minggu kemudian dan kebanyakan mungkin menyebabkan perubahan takikardia dan dehidrasi selama balapan. Untuk beberapa pelari, ada peningkatan pada myocardial biomarkers tertentu namun tidak ada hubungan yang dapat ditarik antara peningkatan dan disfungsi myocardial ini. Hal ini dipercaya bahwa peningkatan sementara mungkin disebabkan oleh perubahan fungsional dari sel otot jantung selama berlari dan bukan oleh kerusakan myocardial.
Sebagai hasil dari penelitian ini, tampak bahwa pelari amatir lansia dapat terus bersaing dalam marathon.
ScienceDaily