foto

TEMPO/Andry Prasetyo



ICG Soroti Keterkaitan Terorisme dengan Peredaran Senjata Ilegal  

TEMPO Interaktif, Jakarta - Kelompok pengamat krisis, International Crisis Group (ICG) menyatakan, beberapa kasus perampokan dengan menggunakan senjata api di Indonesia harus segera ditelusuri keterkaitannya dengan terorisme. Aparat juga harus menyelidiki, bagaimana senjata api ilegal tersebut bisa dimiliki oleh perampok.


"Kejahatan semacam ini hanya sebagian kecil dari kasus-kasus perampokan di Indonesia, tapi kita patut menyoroti dari mana senjata api yang digunakan diperoleh," ujar peneliti senior ICG Sidney Jones dalam keterangan persnya.

Sidney kemudian mencontohkan kasus perampokan bank di Medan bulan lalu. Ia mengatakan, saat ini memang masih belum jelas siapa dalang perampokan tersebut. Meski preman masih menjadi kemungkinan terkuat, namun tak menutup kemungkinan pula terorislah yang beraksi di sini. "Kelompok jihad sudah pernah merampok bank di Medan sebelumnya. Yang paling menonjol yaitu perampokan Lippo Bank tahun 2003," kata dia.

Lagi pula, menurut Sidney, aksi perampokan bank, toko emas, maupun ATM, bukannya diharamkan oleh kelompok ekstremis. "Aksi “fa’i” seperti ini sudah lama dipakai sebagai metode penggalangan dana," ujarnya.

Selain itu, kata Sidney, saat ini organisasi teroris yang dulu besar, kini melemah dan terpecah. "Terutama mereka yang tadinya bergantung pada sumbangan anggota untuk mendanai kegiatan harian mereka. Perekrutan anggota baru yang tadinya penjahat biasa di dalam penjara oleh para anggota kelompok jihad, juga bisa memperkuat hubungan antara terorisme dan kriminal di masa depan," tambahnya.

Di Indonesia, diakui Sidney, hubungan antara terorisme dan kejahatan tidak sekuat seperti di negara-negara lain. Adapun jumlah korban tewas akibat senjata api teroris di Indonesia selama sepuluh tahun terakhir, sekitar dua puluh orang; setengahnya adalah polisi, dan sebagian besar terjadi di daerah pascakonflik, yaitu di Sulawesi Tengah dan Maluku.

Isma Savitri | ICG