Kiai Lirboyo Imbau Umat Islam Indonesia Tak Terpancing Kasus Perobekan Alquran

TEMPO Interaktif, Kediri – Ketua I Pondok Pesantren Lirboyo Kediri KH Ibrahim Hafidz mengutuk perobekan Alquran oleh kelompok Nasrani konservatif di Amerika Serikat. Dia meminta otoritas Nasrani di Amerika mengusut dan menindak pelaku perobekan tersebut agar tidak menimbulkan reaksi umat Islam.

Ibrahim Hafidz yang akrab dipanggil  Gus Bram mengatakan perobekan kitab suci umat Islam yang dilakukan di depan Gedung Putih Amerika, Sabtu (11/9), tidak bisa ditolerir. Hal itu telah melecehkan dan menginjak-injak kehormatan umat Islam di dunia. “Umat Islam harus marah dengan hal ini,” katanya kepada Tempo, Ahad (12/9).

Namun demikian dia melarang keras dilakukannya aksi pembalasan dengan membakar Injil atau merusak atribut Nasrani di Indonesia. Hal itu justru menjerumuskan umat Islam pada tindakan-tindakan yang tidak disukai Rasulullah.

Satu-satunya jalan untuk meredam reaksi adalah meminta otoritas Nasrani di Amerika melalui lembaga keuskupan dan gereja untuk mengusut aksi perobekan tersebut. Merekalah yang menurut Gus Bram paling bertanggungjawab atas insiden itu dan menghukum pelakunya. Jika tidak, dia memastikan seluruh umat Islam di dunia akan melakukan aksi balasan.

Menurut dia, insiden perpecahan antarumat beragama ini sebenarnya merupakan dampak dari isu perang salib yang disampaikan mantan Presiden Amerika Serikat George Bush. Usai tragedi 11 September 2001 silam, Bush memancing kembali isu perang salib dan menghalalkan segala cara untuk menginvasi negara Islam. “Jadi mereka yang memulai permusuhan ini,” katanya.

Kiai sepuh Nahdlatul Ulama Anwar Iskandar meminta umat Islam tidak terprovokasi aksi tersebut. Menurut dia aksi itu hanyalah akal-akalan pendeta Terry Jones agar terkenal dan memperoleh massa.

Kiai Anwar mengatakan aksi perobekan kitab suci umat Islam ini hanyalah insiden kecil yang tidak mewakili kaum Nasrani di Amerika Serikat. Bahkan aksi yang disinyalir masih terkait dengan Terry Jones itu hanya mencari sensasi belaka. “Massa dia kan hanya 50 orang, harus berbuat aneh biar terkenal,” kata Kiai Anwar.

Ia menilai perselisihan kelompok Nasrani dan Islam ini tidak akan pernah berhenti selama masing-masing pihak masih menggunakan perspektif perang salib. Karena itu idiom tersebut harus segera disudahi agar tidak berkepanjangan.

HARI TRI WASONO