TEMPO/ ADITYA HERLAMBANG PUTRA
Dede Yusuf Tawarkan Krawang Sebagai Ibu Kota
TEMPO Interaktif, Bandung—Menyoal wacana pemindahan ibukota dari Jakarta, Wakil Gubernur Jawa Barat Dede Yusuf mengusulkan Krawang jadi lokasi pusat pemeritahan yang baru. “Saya sempat mengajukan opsi pada pemerintah pusat mealalui kawan-kawan di DPR, kenapa tidak Krawang saja,” kata Dede Yusuf, di Bandung, Kamis (16/9).
Dia menyokong wacana yang dilemparkan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono untuk memindahkan ibukota Indonesia dari Jakarta. Namun, Dede berpendapat, agar yang pemindahan itu hanyalah pusat pemerintahan saja, yakni tempat presiden dan para menteri pembantunya bekerja. ”Pusat ekonomi tetap di Jakarta,” katanya.
Soal dimana letak ibukota negara ini, Dede mengusulkan agar digilir saja. Sementara pusat perekonomian negara ini biarkan tetap berada di Jakarta karena sulit memindahkannya akibat infrastruktur yang sudah terlanjur berkembang di sana.
Dengan membiarkan Jakarta menjadi pusat ekonomi negara ini, konsep pengembangan megapolitan yang terlanjur sudah jalan bisa diteruskan. ”Megapolitan itu konsep pengembangan DKI Jakarta keluar (wilayahnya), dalam konteks transportasi, perhubungan, dan lain sebagainya, tapi kalau kita bicara pusat pemerintahan, itu ya harus dipindah,” katanya.
Menurutnya, sejak tahun 80-an sudah ada wacana melirik Jonggol menjadi bakal lokasi ibukota. Hanya pengembangan daerah itu jika pun ditunjuk akan terkendala kontur wilayahnya yang berbukit-bukit plus butuh dana besar untuk membangun infrastruktur aksesnya.
Sambil menunggu pemerintah dan DPR membahasnya lebih serius, Dede mengusulkan lokasi pusat pemerintahan berada di wilayah Krawang yang disebutnya punya sejumlah kelebihan dibandingkan Jonggol. Di antaranya akses jalan yang lebih mudah termasuk jalan tol, plus lahan yang tersedia masih luas.
Dede mengatakan, masih tersedia ribuan hektare lahan kosong yang bisa dijadikan pusat pemerintahan. Dia mencontohkan, masih ada sekitar 6 ribu hektare lahan milik Perhutani eks tukar guling lahan yang belum dipakai di seputaran areal industri di daerah itu. Kelebihan lainnya, wilayah Krawang relatif rata, tidak berbukit-bukit.
”Kalau Jonggol arealnya berbukit-bukit, yang manapun Jawa Barat siap, tapi saya pun boleh mengusulkan ada tempat yang lebih rata, akses jalan suda ada, dari Jakarta hanya berjarak 20 menit, itu menjadi pertimbangan,” kata Dede.
Dede mengatakan, belum ada pembicaraan serius dengan pemerintah pusat soal pemindahan ibu kota ke wilayah Jawa Barat. ”Kalau presiden dan DPR memutuskan, oke Jawa Barat dan bertanya bagaimana kesiapannya, baru kita duduk bersama, sekarang baru wacana, biar saja itu jadi kewenangan pemerintah pusat,” katanya.
Yang pasti, kata dia, ada keuntungan bagi Jawa Barat jika pusat pemerintahan dipindahkan ke wilayah ini. Minimal, kata Dede, rencanan pengembangan Jawa Barat akan lebih mudah terakomodir dalam rancangan anggaran pemerintah pusat karena presiden dan para menterinya jadi warga Jawa Barat. ”Kalau sekarang kita bicara Jawa Barat itu dekat di mata, jauh di hati,” kata Dede.
Ahmad Fikri





