Direktur Utama PT Merpati Nusantara Airlines Sardjono Jhony Tjitrokusumo. TEMPO/Subekti
Infografis
"Merpati Harus Masuki Kompetisi"
TEMPO Interaktif, Jakarta - Sardjono Jhony Tjitrokusumo, yang dilantik sebagai Direktur Utama Merpati pada Mei lalu, tak luput dari beban ini. Mengawali karier di Merpati, tapi keluar 13 tahun kemudian. Setelah enam tahun berkarier di Etihad, dia hinggap lagi ke rumah lamanya. "Look, Man, one day I''ll be back," katanya kepada Tempo, yang menemuinya di Kantor Badan SAR Nasional. Dia mengisahkan alasan keluar dan kembali ke Merpati lagi.
Karier Anda di Etihad bagus, istri Anda pilot Etihad, kenapa memilih kembali ke Merpati?
Jabatan ini batu loncatan yang terbaik karena rock bottom. Untuk menjadi yang terbaik, harus membuat Merpati cantik tanpa make up melalui rekonstruksi tulang dan wajah. Memang menyakitkan dan prosesnya lama. Tapi, sekali berhasil, tidak perlu dibedakin lagi. Saya harus kembali ke Merpati karena gatal hati dan kepala, tapi bukan utang budi.
Apa yang Anda lakukan ketika mulai memimpin Merpati?
Empat hari setelah saya dilantik, masuk dokumen SLA yang tidak pernah diteken direksi lain. Pada hari kelima, tim dari Jerman dan Amerika datang mau ambil dua pesawat karena menunggak sewa hingga utang outstanding sekitar US$ 3 juta. Saya beri mereka surat kuasa untuk mengambil pesawat tanpa izin Merpati.
Mereka jadi ambil pesawat?
Mereka malah kaget. Saya bilang, kalau kalian ambil, Merpati tutup dalam dua minggu. Lalu kami sepakat menurunkan harga sewa dua pesawat hingga US$ 39 ribu per bulan. Utang sebanyak S$ 3 juta digeser ke Februari 2011 tanpa bunga, dan dicicil US$ 50 ribu per minggu. Saya bilang kepada mereka, "I will pay it religiously."
Berapa utang Merpati waktu itu?
Sekitar Rp 1,9 triliun. Kami dijangkar ke masa lalu, kecuali pemerintah bersedia melepaskannya. Sekali saja sepanjang umur Merpati, pemerintah mengambil keputusan yang tepat waktu dan tepat dosis. Waktu saya masuk, Merpati punya utang tahun berjalan kepada Pertamina sebesar Rp 25 miliar, dan dilunasi dalam dua bulan hanya dengan pengelolaan yang baik.
Apakah utang Pertamina lunas semua?
Begitu yang Rp 25 miliar lunas, Pertamina minta kami bayar utang enam tahun lalu sebesar Rp 230 miliar. Akibat telat bayar, utang membengkak jadi Rp 540 miliar. Kami juga masih ada utang selisih kurs pada 2004, utang yang ditunda, dan overdue. Masalahnya, dari 13 pesawat jet sewa, hanya 7 yang beroperasi. Satu pesawat ATR kami kembalikan karena tidak efisien. Kalau dua pesawat itu diambil, kami cuma beroperasi dengan lima pesawat. Saya tidak bunuh diri saja sudah bagus.
Bagaimana dengan 15 unit pesawat MA-60 buatan Cina?
Pesawat senilai US$ 234 juta itu bagian concessional loan pemerintah pada 2005. Merpati hoki karena dapat MA-60 saat ekuitas negatif, boleh dicicil 15 tahun dengan grace periode lima tahun dan bunga 3 persen dalam rupiah. Kalau ditambah Rp 2,2 triliun itu, ekuitas Merpati minus Rp 4,1 triliun. Kalau saja MA-60 itu sudah masuk pada 2005, kondisi Merpati mungkin berbeda.
Harga 15 pesawat sampai US$ 234 juta apa tidak terlalu mahal?
Siapa yang bilang harga satu pesawat sampai US$ 14 juta? Dari total biaya US$ 234 juta, Merpati mendapatkan 15 pesawat, satu simulator, peralatan optional sesuai dengan keinginan DKUPPU, spare part ope item selama empat tahun, dan lain-lain. Jadi, kalau dihitung, harga per pesawat US$ 11,2 juta. Padahal banderol pesawat MA-60 di pasar US$ 13,6 juta.
Kenapa Merpati memilih jalur penerbangan di wilayah Indonesia timur?
Kenapa Merpati harus ke timur, kesannya kalau ke barat tidak bisa menang. Saya mau Merpati ke barat juga. Sekarang kami medium, tapi Merpati terlalu banyak bersaing ke bawah. Saya menargetkan Merpati masuk pasar Garuda dengan satu kebijakan yakni one service, one fleet, one price. Memang harus pelan-pelan, mungkin pertengahan 2011 kita jalan, dengan syarat revitalisasi ini harus diperbaiki.
Tidak terlalu berat masuk ke persaingan pasar ini?
Misinya sederhana menjadi maskapai regional yang berdaya saing tinggi, tertib, dan sadar keselamatan. Selama ini Merpati tidak pernah bersaing. Di jalur gemuk, Merpati tunduk karena persaingan ketat, tidak pernah stay foot. Seharusnya masuki kompetisi untuk bisa memenangkan kompetisi.
Apa saja kita masuk ke persaingan itu?
Revitalisasi fleet. Kami butuh modal kerja jika pemerintah tidak beri PMN. Penuhi saja 15 pesawat B-737 Classic yang lebih andal, biaya lebih murah, dan memenuhi aturan Kementerian Perhubungan. Merpati itu seperti diminta gali lubang 3 x 3 meter dengan kedalaman 4 meter dalam waktu tiga hari, tapi menggalinya dengan sendok.
Boks
Nama: R. Sardjono Jhony Tjitrokusumo
Tempat dan tanggal lahir: Jakarta, 5 Agustus 1971
Istri: Isma Kania Dewi (Penerbang A330/A320 Etihad Airways)
Anak: Tiga orang
Pendidikan:
Diploma IV Penerbang Sayap Tetap/Fix Wing 1995
Australian Aviation College (1991)
SMA 39, Jakarta Timur
Karier:
Direktur Utama PT Merpati Nusantara Airlines
Pilot Etihad Airways (Sejak 2008)
Pilot Qatar Airways (2006-2007)
Pilot Merpati Airlines (1991-2004)
Lisensi Terbang:
Indonesia ATPL 1995
Singapura ATPL 2004
Qatar ATPL 2006
Uni Emirate Arab ATPL 2008





