Indonesia Raih Dua Emas Olimpiade Kebumian

TEMPO Interaktif, YOGYAKARTA - Indonesia memperoleh dua emas dalam Olimpiade Kebumian yang diselenggarakan oleh Universitas Gadjah Mada. Inilah untuk pertamakalinya Indonesia mendapat emas setelah mengikuti olimpiade ini sejak 2007.

“Akhirnya kita pecah telur, mendapat dua emas. Senang dan bangga sekali,” kata ketua tim Olimpiade Kebumian dari Indonesia, Sapto Budi Samudera kepada wartawan usai pemberian medali di Gedung University Center Universitas Gadjah Mada.

Selama tiga tahun mengikuti perlombaan ini, Indonesia hanya memperoleh medali 4 perak di Korea tahun 2007. Pada tahun 2008, Indonesia hanya menjadi observer, dan hanya memeroleh 1 perak di tahun 2008 ketika Olimpiade diselenggarakan di Taiwan.

Dua orang yang memperoleh medali emas adalah Rio Priandri Nugroho (Tim A), mahasiswa Institut Teknologi Bandung dan Ega Gita Prasastia yang menjadi tamu dalam oliampiade ini (Tim B). Meski hanya menjadi tamu olimpiade, perolehan emas disejajarkan dengan tim A.

Rio mendapat medali emas bersama Hung I Yang (Taiwan), Po Han Huang (Taiwan), Jhih Cing Jhang (Taiwan), Changhyun Choi (Korea), Kazuhiro Noda (Jepang), dan Ho Yeon Shi (Korea). Mereka mengalahkan sekitar 70-an peserta dari negara Amerika Serikat, Ukrania, Rusia, Sri Lanka, Kamboja, India, Thailand, Itali, Nepal, Philipina. Penerima medali emas mendapatkan angka tertinggi karena berhasil menyelesikan tes tertulis dan praktek lapangan untuk ilmu kebumian yakni Geosfir, Atmosfir, dan astronomi.

Salah satu anggota tim regu Indonesia Hakim Lutfi Mualasan yang menjadi pembina tim Indonesia mengatakan sebenarnya tim Indonesia yang berjumlah 8 orang memiliki kemampuan yang tangguh. Hanya saja, kata dia, kemampuan mereka belum terintegrasi. Misalnya, seorang siswa unggul di bidang astronomi namum lemah di geosfir. Namun karena kejuaraan ini individu, maka Indonesia harus puas banyak memeroleh medali perak dengan jumlah total 6 medali perak. “Kalau kejuaraan ini tim, mungkin bisa lebih banyak mendapat emas,” kata Sapto.

Salah satu kelemahan Indonesia dalam olimpiade kebumian ini lantaran kurikulum yang dimiliki Indonesia kalah jauh dengan Korea, Jepang, dan Taiwan. “Kurikulum tentang ilmu kebumian mereka sudah terintegrasi sejak SMA,” ujarnya. Sementara, di Indonesia, pelajaran yang dulunya memiliki bumi dan antariksa sudah hilang dalam kurikulum. “Karena itu Indonesia harus memiliki kurikulum kebumian yang terintegrasi,” ujarnya.

Pentingnya ilmu kebumian dimasukkan dalam kurikulum sejam Sekolah Menengah Atas karena Indonesia salah satu negara yang sering terkena bencana alam. “Karena itu ilmu mulai dari bawah tanah hingga ruang angkasa harus segera dibenahi dalamkurikulum ilmu kebumian,” ujar Hakim.

Untuk mengikuti olimpiade kebumian ini, Indonesia sudah mempersiapkan pelatihannya sejak setahun lalu. Sapto mengatakan pelatihan dilakukan oleh dosen-dosen dari ITB, UGM, Universitas Diponegoro sejak Oktober tahun lalu. Mereka disaring dari peserta di seluruh Indonesia. Pada bulan Oktober 29 nama sudah tersaring hingga menyusut tinggal 8 nama.

Rio, peraih medali emas mengaku senang dan bersyukur mendapat medali emas ini. Rio mengaku saingan terberat dalam ajang bergengsi ini dari negara Taiwan yang dalam olimpiade ini memborong medali emas dan mendapat grand master. “Mereka teori dan latihannya hebat,” kata Rio. Rio sendiri mengaku kesulitan tes tertulis dan praktek di bidang astronomi. “Soalnya benar-benar di luar bayangan,” ujarnya.

BERNADA RURIT