sxc.hu
Topik
Daripada Aborsi, Mending Kontrasepsi
TEMPO Interaktif, Jakarta - Harapan Angelia, bukan nama sebenarnya, untuk kuliah pupus sudah. Ibu muda itu kini hanya bisa menyesal. Tujuh tahun lalu, saat dia masih duduk di bangku kelas XII SMA, ujian akhir nasional (UAN) tinggal tiga bulan lagi. Orang tua Angelia sudah menyiapkan duit buat meneruskan pendidikan anaknya ke perguruan tinggi.
Bagaikan tersambar petir di siang hari, sebulan sebelum UAN, Angelia ketahuan hamil. Pihak sekolah mengeluarkannya. Kini dia hanya mengantongi ijazah SMP. Duit bakal biaya kuliah akhirnya digunakan untuk biaya hidup. Suaminya ternyata juga tak bekerja. Lengkap sudah cerita dukanya.
Direktur Jaminan dan Pelayanan Keluarga Berencana Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Setia Edi mengatakan, berdasarkan survei Komisi Perlindungan Anak, 63 persen remaja pernah melakukan hubungan seks.
Celakanya, 52 persen dari para remaja ini melakukan hubungan intim tanpa alat kontrasepsi. Selanjutnya bisa ditebak, mereka hamil, lalu sebagian dari mereka bernasib seperti Angelia.
BKKBN juga terhambat aturan. "Sesuai dengan aturannya, alat kontrasepsi diperuntukkan buat pasangan suami-istri yang sah," kata Setia. Karena itu, para remaja hanya diberi penyuluhan dan informasi.
Masalahnya, menurut Prof dr Firman Lubis, MPH, Ketua Koalisi untuk Indonesia Sehat, zaman sudah banyak berubah. Arus informasi dulu dengan kini sudah banyak berbeda. Anak zaman sekarang bisa dengan mudah mendapatkan pornografi. Maka itu, Firman berpendapat, alat kontrasepsi juga ditujukan untuk kaum muda-mudi. "Daripada aborsi, mending kontrasepsi," ujarnya.
Prof Dr Biran Affandi, SpOG (K), dari Asia-Pasific Council on Contraception Indonesia, sependapat. "Dokter harus melayani, remaja juga manusia. Dan, dokter bukan aparat penegak hukum," katanya. Menurut dia, kondisi di lapangan memang tak sesuai dengan aturan.
NUR ROCHMI






