Operasi vasektomi tanpa pisau atau Kontrasepsi Mantap Pria dengan melakukan operasi kecil menutup saluran benih kiri dan kanan pada pria, di dalam kendaraan operasi keliling Badan Pemberdayaan Masyarakat Perempuan dan Keluarga Berencana (BPMPKB). TEMPO/ Arif Fadillah
Topik
Investasi dengan Kontrasepsi
TEMPO Interaktif, Tiga belas tahun lalu, setelah memiliki putra, Ratna Indrayani, 45 tahun, memutuskan memakai alat kontrasepsi. Pertimbangannya jelas, Ratna, yang gila kerja, ingin membatasi jumlah kelahiran. Maka dia berkonsultasi dengan dokter. Semua jenis kontrasepsi dijelaskan. "Saya putuskan memilih pil," katanya. Ia merasa pil paling cocok untuknya.
Prof Dr Biran Affandi, SpOG (K), dari Asia-Pasific Council on Contraception Indonesia, mengatakan memilih kontrasepsi harus disesuaikan dengan kebutuhan. Umumnya, ada tiga tujuan yang hendak dicapai dengan kontrasepsi, yakni menunda kehamilan, menjaga jarak kehamilan, dan menghentikan kehamilan. "Pilih alat kontrasepsi yang paling cocok dengan tujuan," katanya.
Biran menyatakan kehamilan yang baik terjadi pada rentang usia 20-35 tahun. Pada usia tersebut, risiko kematian ibu dan bayi paling rendah dibanding pada usia lainnya. Selain itu, jarak kehamilan harus diatur, yakni 2-4 tahun. Untuk itu, pada usia pra-20 tahun, kontrasepsi berguna untuk menunda (differing) kehamilan. Pada rentang usia 20-35 tahun untuk menjaga jarak (spacing) kehamilan, dan usia di atas 35 tahun untuk membatasi (limiting) kelahiran.
Secara umum, dikenal tiga jenis kontrasepsi, yakni kontrasepsi hormonal, barrier, dan alternatif. Kontrasepsi hormonal adalah kontrasepsi dengan obat/alat yang mempengaruhi hormon yang mencegah kehamilan. Kontrasepsi barrier merupakan kontrasepsi yang mencegah sperma masuk ke rahim. Sedangkan kontrasepsi alternatif merupakan pilihan lain di antara dua jenis kontrasepsi tersebut.
Selain itu, ada kontrasepsi darurat (emergency contraception atau morning after pill). Ini merupakan metode kontrasepsi yang dilakukan setelah seorang wanita melakukan hubungan seksual. "Ada dua jenis alat kontrasepsi yang bisa dijadikan sebagai kontrasepsi darurat, yaitu pil dan IUD (intrauterine device)," tutur Biran.
Pil bisa dijadikan kontrasepsi darurat bila hubungan seksual yang dilakukan kurang dari lima hari (5 x 24 jam) sebelumnya. Caranya dengan meminum empat tablet sekaligus. Lalu 12 jam kemudian minum empat tablet lagi. Namun biasanya wanita yang melakukan kontrasepsi darurat sering merasa mual dan muntah. Maka itu, untuk menghindari mual, normalnya pil ini diminum sebelum tidur. Sebaiknya, menurut Biran, juga minum obat anti-muntah dua jam sebelumnya.
Jika tak mau merasakan mual, pil bisa dimasukkan langsung ke vagina, dengan dosis dan rentang pemakaian yang sama dengan cara diminum. "Vagina itu memiliki daya serap yang hebat," ujar Biran.
Namun pil tak disarankan untuk mereka yang memiliki gangguan lever atau kanker payudara. Pasalnya, pil bisa memperburuk kondisi payudara yang sudah kena kanker atau kerja hati. "Jika kena kanker payudara atau gangguan hati, pilih kontrasepsi lain," Biran melanjutkan.
Selain menggunakan pil, kontrasepsi darurat bisa dilakukan dengan menggunakan IUD. IUD, yang mengandung tembaga, bisa dijadikan alat kontrasepsi darurat tujuh hari (7 x 24 jam) setelah berhubungan seksual. "Kontrasepsi IUD sangat efektif. Kegagalannya hanya 1-2 persen. Tapi harus dengan resep dokter," Biran melanjutkan.
Selain itu, ternyata kontrasepsi bisa diperoleh secara alami. Biran menjelaskan, ibu yang menyusui bayinya, minimal sejam dalam sehari, bisa terhindar dari kehamilan. Pasalnya, dengan sering menyusui bayi, otak akan memproduksi hormon prolaktin lebih banyak. Semakin banyak hormon prolaktin, ovulasi (masa subur) semakin ditekan. "Sehingga wanita yang menyusui jadi tidak subur," katanya.
Tak hanya berkutat pada kehamilan, kontrasepsi juga berguna buat kesehatan (non-contraceptive benefits). Beberapa manfaatnya adalah membuat haid teratur, mencegah hamil di luar rahim, menurunkan risiko kista ovarium, mium, kanker ovarium, dan tumor jinak payudara, serta mencegah anemia.
Biran menjelaskan, pil kontrasepsi bisa mencegah kanker karena menekan terjadinya ovulasi. Dengan adanya penekanan, otomatis mengurangi aktivitas indung telur sehingga menurunkan risiko terkena kanker ovarium.
Pil kontrasepsi juga membuat getah leher rahim menjadi kental sehingga mencegah masuknya sperma dan kuman-kuman, serta penyakit lainnya. Gerakan selaput telur yang mempengaruhi usus dan otot polos juga berkurang sehingga mampu mencegah terjadinya kanker usus. "Manfaat tersebut telah diteliti pada pengguna pil kontrasepsi setia selama 5-20 tahun," kata Biran.
Bahkan, Direktur Jaminan dan Pelayanan Keluarga Berencana Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional Setia Edi mengatakan manfaat menggunakan alat kontrasepsi ini ibarat investasi. "Manfaat kesehatan didapat setelah lama berkontrasepsi."
| nur rochmi
A. Jenis Kontrasepsi
- Hormonal
Pil (mikropil)
Minipil (hanya mengandung progestin)
IUS
Implan
Cincin vagina
Pil darurat (hanya dalam kondisi darurat)
- Barrier
IUD/Coil
Kondom pria/wanita
Diafragma plus spermisida
Tutup serviks plus spermisida
- Alternatif
Sterilisasi pria/wanita
Sederhana (senggama putus atau sistem kalender. Tapi tak bisa diandalkan)
B. Memilih Kontrasepsi Sesuai dengan Tujuan
Fase < 20 tahun | Fase 20-35 tahun | Fase >35 tahun
Menunda kehamilan | menjaga jarak kehamilan | menghentikan kelahiran
Pil | IUD | sterilisasi
IUD | suntikan | IUD
Suntikan | minipil | pil
Implan/susuk | pil | implan
Implan | sederhana | Sederhana
| nur rochmi





