Pedagang kaki lima, calon pembeli dan kendaraan bermotor memadati jalan menuju Pasar Metro Tanah Abang, Jakarta, (29/8). Dua pekan menjelang Hari Raya Idul Fitri 2431 H masyarakat ibukota memadati pusat perbelanjaan untuk memenuhi kebutuhan lebaran. ANTARA/Herka Yanis Pangaribowo
Prabowo Dukung Usulan Pemindahan Ibukota
TEMPO Interaktif, Jakarta - Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Prabowo Subianto mengaku mendukung wacana pemindahan ibukota dari Jakarta. Hal itu diutarakan Prabowo dalam diskusi bertajuk Tanah untuk Rakyat di Hotel Le Meredien, Jakarta, hari ini Rabu (29/9).
Menurut Prabowo, kemacetan di Jakarta sudah di luar batas. Karenanya dia mendukung wacana pemindahan ibukota tersebut. "Sebentar lagi mungkin kita nggak bisa bergerak. Oleh karena itu saya mendukung ibukota pindah dari Jakarta," ujar Prabowo saat menjadi pembicara diskusi tersebut.
Namun, dia mengaku pesimis wacana pemindahan ibukota tersebut dapat dilakukan. Hal itu karena pemindahan ibukota hanya bisa dilakukan jika ada dana untuk melakukan hal tersebut. "Kalau kita punya uang, saya dukung ibukota pindah. Orang (anggaran) kita defisit terus."
Padahal menurut Prabowo, kemacetan itu timbul lantaran Indonesia hanya menjadi pasar dari negara lain. Dimana ujungnya bukan memperkaya bangsa namun hanya memperkaya negara lain. "Tidak ada mobil Indonesia, motor Indonesia, akhirnya kembali kita perkaya orang lain. Kalau rakyat kita mau terus menerus jadi pasar negara lain ya silahkan," tutur dia.
Lebih lanjutnya Prabowo mengatakan seharusnya pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai double digit. Dia pun mengimbau seharusnya pemerintah jangan puas dari pertumbuhan ekonomi yang enam persen. "Saya bilang kita harus dua digit. Bahkan ada ahli dari Harvard yang katakan persis apa yang saya katakan satu tahun lalu. Mungkin karena dia dari Harvard dan kulit putih jd lebih disukai."
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat, Priyo Budi Santoso mengatakan hal yang sebaliknya. Menurut Priyo, dia tak mendukung wacana pemindahan ibukota tersebut. Dia mengatakan pemindahan ibukota adalah proyek yang ambisius.
"Dibutuhkan dana sekitar Rp 200 triliun lebih. Kita dapat duit wangsit dari mana. Apalagi ke kalimantan atau papua. Yang paling mungkin ya bentuk kota satelit di sekitar jakarta, mungkin Jonggol dan sekitarnya perlu dipertimbangkan," kata Priyo.
MUTIA RESTY





