Pengungsian korban banjir bandang wasior di lapangan Koding 1703, Manokwari, Papua Barat. TEMPO/Tony Hartawan
Topik
Pengungsi Wasior Kekurangan Selimut dan Karpet
TEMPO Interaktif, Manokwari - Pengungsi di lapangan Kodim 1073 Manokwari mengeluhkan kurangnya selimut, karpet, dan pampers. Kini jumlah mereka berkisar 1.227 orang.
Menurut Kasubdit Rehabilitasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah Papua Barat Wuryanto bantuan untuk logistik dan obat-obatan terbilang cukup. Bantuan itu datang dari Kementerian Sosial, Pemkab Bintuni, Fak-Fak, serta sejumlah yayasan dan LSM.
Namun, dari sekian bantuan-bantuan itu, yang sering dikeluhkan pengungsi adalah kurangnya selimut, karpet, pempers, dan handuk. "Barang ada tapi tak memenuhi," kata Wuryanto pada Tempo, Jumat (15/10), di lokasi pengungsian.
Kurangnya jenis logistik di atas juga diakui seorang pengungsi. "Kalau logistik bagus, tidak ada kesulitan, yang kurang tikar dan selimut," kata Wilhelmus Ayamiseba, 65 tahun, pada Tempo.
Dia juga menilai pelayanan kesehatan memadai. Berdasarkan pantauan, selain didirikan dapur umum, di lokasi pengungsian juga tersedia barak medis. Barak ini dipenuhi obat-obatan yang dibutuhkan pengungsi. Tenaga medis juga terlihat standby di barak medis tersebut.
Menurut Wuryanto jumlah pengungsi di lokasi tersebut 1.227 orang. Namun jumlah tersebut naik turun. Alasannya, sejumlah pengungsi ada yang memiliki keluarga di Manokwari dan memilih tinggal di keluarga. Namun, saat mendapat kekurangan, mereka bisa saja mendatangi barak pengungsian.
Amirullah





