Topik
Badan Pengawasan Obat dan Makanan Uji 16 Produk Kecap
TEMPO Interaktif, Bengkulu - Badan Pengawasan Obat-obatan dan Makanan (BPOM) Bengkulu melakukan pengujian kelayakan konsumsi terhadap 16 sampel produk kecap yang beredar di Bengkulu, Sabtu (16/10). Hal ini menyusul ditariknya Indomie dari pasar Taiwan karena kecap yang digunakan mengandung Nipagin.
Kepala BPOM Bengkulu Zulkifli yang secara langsung memimpin pengambilan sampel mengatakan, hal ini untuk memberikan perlindungan kesehatan kepada masyarakat yang terlanjur resah akibat pemberitaan akhir-akhir ini mengenai kandungan Nipagin di dalam kecap.
"Sebenarnya kita secara periodik telah melakukan sampling dan pengujian terhadap produk makanan yang beredar di pasaran termasuk mi instan dan kecap. Hanya saja akibat pemberitaan yang bombastis akhir-akhir ini kita melakukan pengujian kembali guna lebih meyakinkan masyarakat," jelas Zulkifli.
Sesuai instruksi BPOM Pusat, juga dilaksanakan sampling terhadap 27 item produk mi instan yang beredar di Bengkulu. Uji sampling terhadap mie instan telah dilaksanakan sejak 13 Oktober lalu. Hasilnya akan diketahui tidak lama lagi.
Menurut Zulkifli, kandungan Nipagin yang terdapat pada kecap di mi instan Indomie masih di bawah ambang batas layak konsumsi, yaitu 250 mg/kg. Asumsinya, pada sebungkus Indomie hanya mengandung setidaknya 0,5 mg, dan itu tidak berbahaya karena Nipagin masih aman dikonsumsi sebanyak 10 mg/kg berat badan untuk setiap harinya.
Ia menjelaskan, setiap negara memiliki standar berbeda dalam penetapan regulasi dan persyaratan keamanan mutu dan gizi produk pangan olahan. Indonesia sendiri mengacu pada persyaratan internasional yaitu Codex Alimentarius Commision (CAC) dan berdasarkan kajian resiko.
"Kebetulan Taiwan memberlakukan 0 persen bahan pengawet atau Nipagin dalam produk makanan, sementara negara lain seperti Amerika mentoleransi Nipagin hingga 1.000 mg/kg," tambahnya.
Sementara Rahman, 29 tahun, pedagang bahan kebutuhan pokok di Pasar Panorama Bengkulu, mengatakan pascapemberitaan Indomie mengandung pengawet atau Nipagin hampir tiga hari terakhir tidak ada orang yang membeli mi instan baik Indomie maupun produk lain.
"Mungkin mereka takut mengkonsumsi mi, padahal biasanya setiap hari kita biasa menjual puluhan kardus mi instan dari berbagai merek," katanya.
PHESI ESTER JULIKAWATI





