foto

TEMPO/ Nickmatulhuda

Terinspirasi Wali Songo, PKNU Gelar Muktamar di Kapal Laut  

TEMPO Interaktif, Surabaya -Terinspirasi dengan tradisi Wali Songo yang bermusyawarah di atas kapal dengan berlayar di laut Jawa, DPP Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU) berencana menggelar Muktamar pertamanya di atas kapal laut. Muktamar ini rencananya digelar selama tiga hari pada 12-14 Desember 2010.

Ketua Dewan Pengurus Wilayah PKNU Jawa Timur Arif Djunaidi mengatakan kapal yang akan digunakan adalah kapal penumpang milik Pelni dengan kapasitas 7000 orang. "Jumlah peserta muktamar sekitar 4000 orang, seluruh rapat mulai sidang komisi hingga pemilihan ketua akan digelar di kapal itu," kata Arif kepada Tempo pada Minggu (17/10).


Menurut Arif, Muktamar di atas kapal merupakan pesan beberapa kiai sepuh di antaranya Kiai Sholeh Qosim Sepanjang, Sidoarjo yang menginginkan PKNU meneruskan tradisi Wali Songo yang kerap bermusyawarah di atas kapal. "Tujuan pertama muktamar di atas Kapal ini memang sesuai perintah Kiai Sholeh Qosim supaya kita ngalaf barokah (mencari berkah) para Wali Songo," kata Arif.

Selain itu, Muktamar di atas kapal juga bagian untuk mempopulerkan Indonesia sebagai negara Maritim. Dan yang paling utama, Muktamar ini sengaja digelar di atas laut untuk menjaga Muktamar dari praktek politik uang serta menghindari intervensi pihak luar terhadap PKNU.

"Saya sudah pengalaman, kalau di atas kapal kan tidak ada ATM (Anjungan Tunai mandiri), tidak mungkin peserta membawa uang tunai banyak, jadi tidak akan ada politik uang di kapal nanti," ujarnya. Yang pasti, Muktamar di atas kapal ini sudah didaftarkan kepada Musium Rekor Indonesia (MURI) untuk dicatatkan menjadi rekor Indonesia maupun rekor dunia.

Rangkaian Muktamar diatas kapal akan dimulai dengan pembukaan Muktamar di salah satu pesantren di Bangkalan Madura. Setelah pembukaan di darat, peserta muktamar lantas digiring ke atas kapal untuk menjalankan seluruh rangkaian muktamar di atas kapal. Kapal sendiri baru akan transit di Pelabuhan Semarang Jawa Tengah. Di Semarang ini, peserta akan menggelar bakti sosial dengan membagi-bagikan sekitar lima ribu paket sembako kepada fakir dan miskin.

Setelah itu, peserta kembali masuk kapal dan melanjutkan agenda muktamar. Dari Semarang ini, kapal akan menuju ke Jakarta. "Pokoknya seluruh rapat komisi, pleno hingga pemiliihan ketua umum digelar diatas kapal," kata Arif. Setelah selesai pemilihan ketua, barulah kapal akan bersandar di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta. "Penutupan muktamar secara resmi digelar di darat yaitu di Jakarta."

Meski tak mau menyebut siapa saja calon yang akan berebut ketua umum DPP PKNU, namun Arif tidak membantah jika Ketua Umum DPP PKNU yang sekarang Choirul Anam dipastikan akan menjadi calon terkuat untuk memimpin kembali partai tersebut.

Dalam muktamar sendiri, PKNU rencananya juga akan membahas strategi ke-Indonesiaan untuk menciptakan Indonesia yang aman, tentram dan terbebas dari tindakan anarkis. "Ini lebih penting dibahas ketimbang bahas islah karena sebagai partai PKNU sudah final dan ini merupakan amanah dari parai Kiai pendiri," kata Arif.

Untuk mensukseskan muktamar, pada Sabtu (16/10) kemarin, DPW PKNU Jawa Timur juga mulai melakukan konsolidasi dengan mengundang seluruh anggota DPRD yang dimiliki PKNU. Di Jawa Timur sendiri, PKNU setidaknya memiliki 121 kursi yang tersebar di tingkat Provinsi maupun DPRD kota/kabupaten se-Jawa Timur.

Rapat koordinasi sendiri juga untuk membahas persiapan Musyawarah Wilayah PKNU yang rencannya akan digelar sebelum Muktamar tepatnya akan digelar pada 28 November mendatang di Pesantren Langitan Tuban.

Salah satu pengurus DPW PKNU Jawa Timur, Hidayat mengatakan dalam Muswil di Tuban nanti akan ada empat kandidat ketua yaitu Arif Djunaidi (Ketua DPW PKNU sekarang), Moh Anwar Saddad (Ketua Fraksi PKNU DPRD Jawa Timur), HM Rofiq dan Aqiq Zaman (keduanya anggota Fraksi PKNU DPRD Jawa Timur).

"Sebagai kader, saya berharap kompetisi dilakukan dengan fair tanpa politik uang. Untuk membesarkan citra partai, PKNU harus berbeda dengan partai lain, politik uang jangan ada di PKNU," kata dia.

Fakhur Rohman Taufiq