foto

Hydrant rusak. TEMPO/Aditya Herlambang Putra

50 Persen Hidran di Jakarta Barat Tidak Berfungsi

TEMPO Interaktif, Jakarta - Sekitar 50 persen hidran di Jakarta Barat tidak berfungsi karena tekanan air di saluran air darurat untuk memadamkan api itu lemah.

"Di Jakarta Barat ada sekitar 250 titik hidran, sekitar 125 hidran tidak bisa berfungsi karena tekanan air kurang," kata Kasi Operasi Suku Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana Jakarta Barat Endang Chairuddin pada Tempo, Ahad (24/10).

Padahal Jakarta Barat adalah salah satu wilayah paling sering terjadi bencana kebakaran. Sedangkan keberadaan hidran sangat dibutuhkan untuk melakukan pemadaman api di sekitar wilayah yang jauh dari sumber air, seperti sungai, kolam atau waduk.

Seperti di wilayah Tambora, di sana ada sekitar 20 titik dari total 40 hidran tidak berfungsi. "Di Kelurahan Kalianyar, Tambora, ada lima titik hidran tidak berfungsi padahal di sana sumber air jauh," katanya.

Akibatnya saat terjadi kebakaran, sering kali petugas pemadam mengalami kesulitan karena hidran yang ada di dekat lokasi kebakaran tidak berfungsi. "Akibatnya kami mesti mencari sumber air lain, dan kadang sumber air itu jauh dari lokasi kebakaran," katanya.

Hal serupa juga terjadi di delapan kecamatan Jakarta Barat lainnya. "Hidran yang tidak berfungsi tersebar di seluruh kecamatan," katanya.

Menurut Endang, tidak berfungsinya hidran tersebut karena pasokan air oleh PDAM masih minim. Selain itu saluran air yang dipergunakan untuk hidran menjadi satu dengan pasokan air untuk konsumsi air warga.

"Sehingga mesti berebut dengan warga. Kalau penggunaan air warga tinggi, maka hidran akan tidak berfungsi, padahal mestinya saat selang pemadam dipasang air sudah langsung mengucur, tapi ini tidak bisa. Kita mesti menyedotnya dengan menggunakan pompa," kata Endang. Bahkan kadang saat melakukan penyedotan air yang keluar tidak optimal.

Mestinya, menurut Endang, hidran memiliki saluran air sendiri yang terpisah dari saluran air warga. "Di negara-negara lain, saluran hidran itu dipisahkan dengan saluran air konsumsi warga, tapi di sini masih dijadikan satu, sehingga pasokan air tidak terjaga," lanjutnya.

AGUNG SEDAYU