Diduga Ditimbun, Solar di Sumenep Tembus Rp 8.000

TEMPO Interaktif, Sumenep - Harga solar di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, naik tajam mencapai Rp 8.000 per liter dalam sepekan terakhir. Akibatnya, ratusan nelayan di Pulau Masalembu, Kangean dan Sapeken memilih tidak melaut karena biaya operasional menjadi mahal sementara hasil tangkapan sedikit.

"Kalau tidak diatasi, ekonomi warga bisa lumpuh," kata Anggota DPRD Sumenep asal Pulau Masalembu Darul Hasyim, Minggu (24/10).

Menurut politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ini, tak hanya mahal, kondisi itu juga diperparah ketiadaan solar di pasaran. Pada sejumlah Agen Penyalur Minyak dan Solar (APMS) yang dikunjungi, stok solar habis. "Harganya saja Rp 8 ribu, barangnya tidak ada," ujarnya.

Darul menduga kelangkaan solar tersebut akibat permainan agen yang sengaja menimbun BBM demi meraup untung besar. Dia meminta pemerintah daerah menyelidiki dan memberikan sanksi kepada agen BBM yang nakal.

Kepala Bidang Perekonomian Sekretariat Daerah Kabupaten Sumenep Suprayogi membenarkan kelangkaan solar di wilayah kepulauan tersebut. Setelah dikaji, kata dia, salah satu penyebab kelangkaan solar adalah kesalahan pola distribusi karena informasi dari Pertamina cabang Camplong, Kabupaten Sampang, memastikan tidak pengurangan atau keterlambatan pendistribusian BBM jenis solar ke wilayah kepulauan. "Distribusi dari Pertamina selalu sesuai jadwal, kami duga ada penimbunan," paparnya.

Solusi jangka panjang yang ditawarkan untuk mengatasi kelangkaan solar, yaitu mengubah pola distribusi dari APMS ke masyarakat. Saat ini, kata Yogi, pihaknya telah memerintahkan seluruh camat di kepulauan untuk menginventarisasi kebutuhan oslat di tiap kecamatan agar Pertamina bisa menambah distribusi solar sesuai kebutuhan masyarakat. "Pendataan kebutuhan solar belum selesai," ungkapnya.

MUSTHOFA BISRI