Kampanye anti perdagangan perempuan di Israel (cnn.com)
Topik
Kampanye Anti Prostitusi, Perempuan Dipajang
TEMPO Interaktif, Tel Aviv, Israiel: Pengunjung mal di Tel Aviv terperajat saat melihat etalase yang berada di tempat itu. Sekelompok perempuan muda dipajang, satu deret dengan baju dan komik. Masing-masing mengenakan label harga, lengkap dengan keterangan umur, ukuran badan, dan asal negara.
Jangan berpikir di mal ini tengah terjadi praktik perdangangan manusia. Justru sebaliknya, perempuan-perempuan muda itu dipajang sebagai bagian dari kampanye anti perdagangan perempuan.
Gerakan sosial yang belakangan ini gencar dilakukan masyarakat negara Yahudi itu untuk mendesak pemerintah mengesahkan undang-undang anti prostitusi dengan menetapkan penyewa prostitusi sebagai pelaku kriminal. Menurut satu pelopor gerakan, Ori Keidar, peraturan itu dibutuhkan untuk menghentikan perdagangan perempuan di Israel.
"Menurunnya konsumen prostitusi membuat kebutuhan perempuan untuk prostitusi anjlok, sehingga organisasi penyeludup perempuan kehilangan pencaharian," ujarnya seperti dikutip CNN, Senin (25/10).
Keider mengatakan, Swedia sudah memberlakukan peraturan yang sama. "Terbukti menurunkan tingkat prostitusi dan perdagangan perempuan," kata Keidar, yang berprofesi sebagai jaksa.
Selama satu dekade terakhir 10 ribu perempuan diseludupkan ke Israel. Keidar menyebutkan sebagai perbudakan masa modern. Perempuan-perempuan itu dikurung dan dipukuli. "Mereka dipaksa melayani 15 sampai 30 orang setiap hari, 365 hari setahun," katanya.
CNN | REZA M





