foto

Ilustrasi

Kerja, Namun Tak Bahagia

TEMPO Interaktif, Jakarta -Tiap kali mendapat sebuah pekerjaan, Yanto tak pernah puas. Pertama dapat pekerjaan empat tahun lalu, Yanto sempat menjadi wartawan di sebuah media di Bekasi. Tak sampai dua bulan, dia keluar dan kembali ke kampungnya di Jawa Tengah. "Saya menganggur, bantu-bantu ayah jadi petani," kata lajang 28 tahun itu. 

Selang beberapa bulan, dia bekerja di sebuah lembaga swadaya masyarakat. Hasilnya sama saja. Beberapa bulan kemudian ia keluar lagi. Luntang-lantung di Jakarta, dia akhirnya bekerja di sebuah lembaga penelitian swasta. Namun penyuka buku dan filsafat itu tetap merasa tak nyaman. Saat bekerja, badannya di kantor, tapi pikirannya entah ke mana.
 
Yanto mengaku, pertama kali bekerja bukanlah karena keinginannya. "Enggak enak sama orang tua, masak habis kuliah menganggur," katanya. Akibatnya, dia asal dapat pekerjaan. Berkali-kali pindah kerja membuat penghasilan untuk menopang hidupnya tak jelas. Padahal pacarnya minta dipinang. Karena orientasi hidupnya tak jelas, sang pacar lari ke pelukan pria lain.
 
Pekerjaan memang bukan urusan uang semata, namun juga berkaitan dengan kesehatan mental. Menurut penelitian Dr Liana Leach dari Center for Mental Health Research di Australian National University, jika ingin memiliki kesehatan mental yang baik, tidak cukup hanya memiliki pekerjaan, tapi juga harus memiliki pekerjaan yang memuaskan.
 
Penelitian yang dipimpin Leach ini mendapatkan fakta bahwa pekerjaan tidak selalu berkaitan dengan kesehatan mental yang lebih baik. Bahkan, orang-orang yang awalnya menganggur lalu mendapat pekerjaan yang berkualitas buruk jauh lebih mungkin terserang depresi daripada saat mereka menganggur. "Orang yang awalnya menganggur, lalu dapat pekerjaan tapi buruk, jadi lebih tertekan dibanding saat menganggur," kata Leach.
 
Dalam penelitiannya, Leach menyurvei sekitar 4.000 pegawai yang tinggal di Canberra dan New South Wales. Mereka ditanyai soal status kepegawaian mereka, kondisi di tempat kerja, serta kesejahteraan mental. Survei yang sama diulang empat tahun kemudian. Hasilnya, hampir 75 persen dari kelas pekerja tidak senang terhadap pekerjaan mereka dan 85 persen percaya bahwa mereka terjebak dalam pekerjaan yang buruk.
 
Pekerjaan yang buruk didefinisikan sebagai kerja dengan rendahnya keamanan kerja, gaji kecil, penuh tekanan, beban kerja berlebihan, lingkungan kerja yang buruk, sedikit kontrol, dan praktis tidak ada prospek ke depan.
 
Sebaliknya, pekerjaan yang baik adalah pekerjaan dengan gaji yang cukup serta mendapat keamanan kerja dan promosi.
 
Penelitian pada umumnya menunjukkan bahwa orang yang bekerja memiliki kesehatan mental yang lebih baik ketimbang menganggur. Umumnya, dengan mendapat pekerjaan, mereka bisa meningkatkan kesejahteraan, tingkat sosial-ekonomi, dan kesehatan. Sebaliknya, menurut Leach, menempatkan orang ke dalam pekerjaan apa pun belum tentu mengarah pada peningkatan kesehatan mental.
 
Yang pasti, orang membutuhkan kualitas kerja yang baik untuk mendapatkan dan mempertahankan kesejahteraan yang lebih baik. "Ini menekankan pentingnya perusahaan memberikan lingkungan yang berkualitas baik, tempat kerja yang baik, dan tuntutan kerja yang realistis," kata Dr Leach.
 
NUR ROCHMI | berbagai sumber