Marzuki Alie Bersedia Minta Maaf untuk Mentawai

Marzuki Alie Bersedia Minta Maaf untuk Mentawai

Penduduk desa di Kecamatan Pagai Selatan yang terkena tsunami di Mentawai, Kamis (28/10). Jumlah korban tewas akibat tsunami yang melanda pulau-pulau terpencil barat Mentawai pada hari Senin telah mencapai setidaknya 343 orang. REUTERS/Presidential Palace-Abror Rizki/Handout

TEMPO Interaktif, Kuala Lumpur:  Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Marzuki Alie bersedia meminta maaf  kepada rakyat Indonesia atas pernyataannya yang dianggap tidak peka terhadap penderitaan korban tsunami di kepulauan Mentawai.

“Kalaupun minta maaf karena salah persepsi, salah opini, atau salah pengertian, tak ada masalah minta maaf kepada rakyat Indonesia,” kata Marzuki di sela-sela kunjungannya ke Malaysia dalam rangka wisuda doktoralnya di Universiti Utara Malaysia (UUM), Jum’at (29/10). “Toh, minta maaf tidak akan mengecilkan diri kita. Dan sebagai manusia, kekeliruan itu bisa saja terjadi.”

Marzuki Alie menjelaskan bahwa persepsi negatif atas pernyataannya muncul karena kesalahan wartawan mengutip ucapnnya. “Waktu itu wawancaranya door-stop, pertanyannya pindah-pindah, sehingga kutipannya sepotong-sepotong,” terang Marzuki. “Tapi saya nggak menyalahkan media. Itu biasa dalam pengutipan.”

Sebelumnya, menanggapi  bencana tsunami yang terjadi di Mentawai, Marzuki mengatakan: "Mentawai baru ada beritanya karena itu kan jauh pulau itu. Ya, pulau kesapu sama ombak besar kesapu tsunami mungkin konsekuensi orang yang tinggal di pulau lah," kata Marzuki.

Dia juga menuturkan, peringatan dini selama dua jam dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana  (BNPB) tak banyak membantu karena warga tak sempat meninggalkan Mentawai. Oleh karena itu, bencana Tsunami tidak perlu ditakuti jika warga Mentawai pindah. "Kalau takut kena ombak jangan tinggal dipinggir pantai. Tapi kan Tsunami ini tentukan harus kita peduli," ujarnya ketika itu.

Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat ini mengklarifikasi  pernyataannya itu. Menurut dia, sebenarnya dia mengatakan, Mentawai itu adalah kawasan zona gempa. "Secanggih apapun peralatannya, kalau tidak ada tempat berlindung di pulau tersebut, maka tidak ada gunanya,” kata dia. “Maksud saya, jangan ada lagi anak bangsa yang mati sia-sia”.

Marzuki mencontohkan kasus meninggalnya Mbah Maridjan, juru kunci Gunung Merapi. “Jangan seperti kasus Mbah Maridjan, walaupun sudah difasilitasi, tapi tetap dengan kepercayaannya, lalu ada awan panas kemudian tewas. Ya nggak bisa dong, disalahkan pemerintah,” katanya.

Dalam kesempatan ini, Marzuki juga menyampaikan alasannya mengapa belum melakukan kunjungan ke Mentawai. “Kalau saya pergi kesana sekarang, tugas saya apa? Hanya untuk melihat-lihat?” katanya, balik bertanya.

Sedangkan kalau tetap di Jakarta ia bisa memantau perkembangan dan menanyakan kepada menteri perhubungan tentang pengiriman bantuan ke Mentawai. “Saat ini yang mereka perlukan para relawan. Kalau saya datang untuk berempati, itu nanti,” ujar Marzuki. Dia berjanji akan meninjau ke daerah bencana bersama komisi XIII DPR dengan membawa dana bantuan. “Kita datang ke daerah bukan dengan tangan kosong.”

Menanggapi maraknya pemberitaan atas pernyataannya, Marzuki hanya menjawab enteng. “Tak ada masalah. Saya syukuri saja, bisa menjadi orang terkenal.”

Masrur
 

Komentar (22)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
4
4
bersedia minta maaf dengan cara yg angkuh .., astaghfirullah .., bodoh kok sampe tulang sumsum. Pernyataan yang malah menunjukkan kebodohan dan keangkuhan luar biasa.
0
4
memang gak ada satupun yg benar dr kader demokrat.amatiran,angkuh,sombong n merasa mrk yg punya indonesia ini.orng lain danggapnya bodoh.
0
1
betul juga bos,,lagian kalau yg ente dateng takutnya kena sambil sendal,,atau batok kelapa..jadi mending ndak usah datenglah,,
0
0
bener mas , aku ngirim koment banyak yng nggak dimuat ?...pehhh nggateli ...
0
0
kesalahan yg tidak disengaja ya wajar. Tapi kalo disengaja dan sadar-sesadar-sadar-nya, orang gila saja mikir.
Selanjutnya
Wajib Baca!
X