Des Alwi Dilepas Secara Militer

Des Alwi Dilepas Secara Militer

Sejumlah pasukan TNI membawa jenazah tokoh sekaligus pelaku sejarah Indonesia, Des Alwi Abubakar di rumah duka Jl Taman Biduri Blok N1/7, Permata Hijau, Jakarta, Jumat (12/11). TEMPO/Subekti

TEMPO Interaktif, Jakarta - Jenazah sejarawan Des Alwi dilepas dalam upacara militer di Bandara Halim Perdana Kusuma. Menko Polhukam Djoko Suyanto ditunjuk pemerintah memimpin upacara pelapasan itu dari rumah duka di kawasan Permata Hijau Jakarta Selatan.

Upacara pelepasan jenazah secara militer tersebut dilaksanakan pukul 14.15 WIB dan selesai pukul 15.35 WIB. Jenazah kemudian dibawa ke Halim Perdana Kusuma untuk diterbangkan ke menuju Banda Neira, Maluku.

Dalam upacara itu tampak Menteri Perikanan dan Kelautan Fadel Muhammad, mantan Wakil Presiden Try Sutrisno dan juga Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto.

Sementara itu, Wapres Boediono beberapa saat sebelumnya juga melayat ke rumah duka bersama Ibu Herawati Boediono. Rusli, kerabat Des Alwi, mengatakan, jenazah Des Alwi akan dimakamkan di Banda Neira, Maluku, Sabtu (13/11).

Ia mengatakan, jenazah akan diterbangkan terlebih dahulu ke Manado melalui Lapangan Udara Halim Perdana Kusumah. "Jenazah akan disemayamkan sehari di Gedung DPRD Manado, seblum keesokannya diterbangkan ke Banda Neira," katanya.

Ia juga menambahkan, akan dilakukan dengan upacara militer pada pemakaman Des Alwi.
Almarhum Des Alwi lahir di Banda Neira, 17 November 1927. Di Jakarta, ia terkenal sebagai pelobi tingkat tinggi dan simbol masyarakat Banda.

Sebagian orang menilai, kepiawaian Des Alwi dalam hal melobi hingga mendapat julukan pelobi tingkat tinggi, itu salah satunya hasil dari kebiasaannya bergaul dengan tokoh-tokoh tahanan politik yang dibuang ke Banda.

Des yang merupakan pelaku sekaligus pencatat sejarah itu banyak belajar dari dr Tjipto Mangunkusumo yang disebutnya sebagai Oom Tjip, Dr Muhammad Hatta yang dipanggilnya sebagai Oom Kaca Mata, Sjahrir sebagai Oom Rir, Mr Iwa Kusumah Sumantri dan beberapa anggota Sjarikat Islam Indonesia lainnya.

WDA | ANT

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Wajib Baca!
X