Mari Elka: Yang Lebih Penting Kerjasama, Bukan Hanya Liberalisasi

TEMPO Interaktif, Tokyo - Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu mengatakan, dalam mencapai Bogor Goals, yang dilakukan tidak hanya melakukan liberalisasi perdagangan sebagai hasil dari Konferensi Tingkat Tinggi Asia Pasific Economic Cooperation (APEC) di Yokohama Jepang. Yang lebih penting dari liberalisasi adalah kerjasama yang lebih baik di antara ekonomi anggota APEC. 


"Kerjasama ini mempunyai arti luas , antara lain pemberian fasilitas dan peningkatan kapasitas industri di setiap ekonomi anggota APEC . Seluruh pemimpin harus mempertimbangkan perbedaan kondisi dan status setiap ekonomi anggota APEC," kata Mari dalam konferensi pers usai Penutupan KTT APEC di Hotel Prince ParkTower, Tokyo , Jepang, Minggu (14/11).  

Mari mendamping Wakil Presiden Boediono dalam konferensi pers yang juga dihadiri Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa , Menteri Perdagangam Mari Elka Pangestu, Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa, Menteri Keuangan Agus Martowardojo , Menteri Perindustrian MS Hidayat , dan Menteri PPN/ Kepala Bappenas Armida Alisjahbana. 

Menurut Mari, peningkatan kapasitas ini sangat penting agar ekonomi negara yang kurang maju bisa lebih cepat mengejar ketertinggalannya. Ia juga menjelaskan tentang kerangka kerja dan rencana aksi perbaikan suplai barang dan konektivitas antara anggota APEC pada 2015. 

"Selain itu untuk perbaikan tata cara berbisnis, targetnya ada perbaikan 25 % pada 2015 yang mencakup lima area prioritas: prosedur memulai usaha, akses pada kredit , perdagangan lintas perbatasan, implementasi kontrak bisnis, dan masalah perizinan," kata Mari. 

Ke depan, lanjut dia, APEC juga harus selalu bersinergi dan memperkuat kerjasama dengan berbagai forum internasional lain seperti G -20 dan mengimplementasikan hasil-hasilnya. Untuk WTO, APEC juga bersepakat untuk mempercepat penyelesaian putaran Doha agar bisa selesai pada 2011. 

Menurut Mari, situasi dunia saat ini banyak berubah. Dulu dalam pengelompokan hanya ada negara maju dan berkembang. Sekarang sudah ada emerging economies atau kekuatan ekonomi baru, seperti negara -negara BRIC (Brazil, Russia, India and China). 

Sebagai gambaran, kata dia, pangsa ekspor RI ke emerging economies tumbuh pesat dari 29 persen pada 2005 menjadi 39 persen pada 2009. Sementara porsi impor RI dari emerging economies juga meningkat dari 29 persen pada 2005 menjadi 39 persen pada 2009. 

Pada 1994, hanya ada G 7 dan G 8 dalam pengelompokan negara di dunia. Sekarang sudah ada G 20. Pada 1994 juga belum ada WTO yang kemudian lahir pada 1995 karena peran besar APEC yang mendorong penyelesaian Uruguay Round sehingga lahir WTO. 

"Maka, untuk membuat APEC tetap relevan dan berperan besar di masa mendatang, Indonesia menekankan pentingnya kerjasama ekonomi dan peningkatan kapasitas industri di masing -masing ekonomi anggota APEC . Penting juga untuk tetap menjaga agar pertumbuhan perdagangan multilateral di kawasan APEC tetap adil dan merata di setiap anggota," ujarnya .

EKO ARI WIBOWO