Senin, 15 November 2010 | 17:52 WIB
Andrinof: Kita Belum Memiliki Ibukota Berkelas Dunia
TEMPO Interaktif, Jakarta - Pengamat politik dari Universitas Indonesia Andrinof Chaniago mengatakan, sebagai negara yang besar, kita sebenarnya belum memiliki ibukota yang berkelas dunia. Hal ini disampaikan Andrinof dalam sebuah diskusi bertema "Masih Layakkah Jakarta Sebagai Ibu Kota RI" di Kampus Universitas Nasional, Jakarta, Senin (15/11/2010).
Menurut Adrinof, sebuah ibu kota disebut berkelas dunia apablila memiliki tata ruang kota yang baik, pola pemukiman yang efisien, sarana transportasi yang berkualitas dan memiliki ruang publik yang cukup. Ia memberi contoh kota berkelas dunia itu antara lain Cape Town di Afrika Selatan, Buenos Aires di Argentina, serta Rio De Janiero di Brazil.
Perbincangan mengenai masih layak atau tidaknya Jakarta menjadi ibukota mengemuka belakangan ini karena masalah yang ditanggung Jakarta dianggap sudah sangat rumit. Di antaranya, masalah urbanisasi yang parah sehingga menyebabkan kepadatan penduduk sangat tinggi, tata ruang kota yang dinilai kacau, kemacetan yang semakin menjadi-jadi, serta buruknya sistem daerah resapan air (drainase) sehingga menyebabkan kota ini mudah banjir. Soal-soal inilah yang memicu lahirnya wacana pemindahan ibukota ke luar pulau Jawa. Salah satu alternatif yang disebut adalah Kalimantan.
Andrinof setuju dengan ide pemindahan ibu kota ke Kalimantan tersebut karena dua alasan. Pertama, Kalimantan merupakan daerah yang populasi penduduknya masih rendah. Kedua, Kalimantan juga merupakan pulau yang paling aman dari ancaman bencana gempa bumi.
Dia mengakui pemindahan ibukota itu membutuhkan biaya yang tidak murah. Taksirannya sekitar Rp 100 triliun. Namun dia mengingatkan bahwa anggaran sebesar itu tidak dikeluarkan sekaligus. Anggarannya dikeluarkan dalam jangka waktu 10 tahun dengan rata-rata Rp 10 triliun per tahunnya. "Biaya tersebut menurut saya jauh lebih rendah dibandingkan dengan kerugian yang disebabkan oleh kemacetan yang mencapai Rp 20 triliun per tahun," kata Chaniago.
Pemindahan ibukota, kata Andrinof, juga tak bisa dilaksanakan dengan cepat. Kalau hari ini dibahas, tak harus direalisasikan esok. Ia memberi contoh pemindahan ibukota di Malaysia. Untuk memindahkan ibukota dari Kuala Lumpur ke Putrajaya, Pemerintah Malaysia membutuhkan waktu dan proses yang cukup lama.
Dennis Nanda






Web via