Bakar sate. Foto: tempo/ Fully Syafi
Topik
Kerukunan dalam Setusuk Sate
TEMPO Interaktif, Jombang - Keringat mengucur dari dahi Muhammad Ajib, siswa kelas III Madrasah Aliyah, Yayasan Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Matanya sesekali terpejam menahan pedih kepulan asap dari arang. Dua tanganya bergantian membolak-balik beberapa tusuk daging sate yang dilumuri kecap di atas perapian. "Bagi kami momentum seperti ini jarang sekali. Ini momen penting untuk menjalin kerukunan dan kebersamaan sesama santri," kata remaja 15 tahun kepada Tempo, Rabu (17/11).
Ajib tak sendiri. Untuk memanggang beberapa tusuk sate itu, dia bergiliran dengan santri lain yang tinggal satu asrama. Meski para santri itu berasal dari daerah berbeda, namun mereka tetap kompak. Satu santri bertugas membolak-balik sate agar panas merata, sementara santri lain meniup arang, menjaga nyala api.
Menurut Ismadani, santri asal Semarang, kawan Ajib, momen Hari Raya Kurban tahun ini sangat penting bagi santri di Tebuireng. Selain suntikan gizi yang melimpah, mereka juga bisa memanfaatkan liburan Idul Adha bersama kawan-kawannya yang berasal dari daerah lain.
Tahun lalu, biasanya beberapa santri banyak yang pulang. Namun karena ada iming-iming sate, dia dan beberapa kawan berinisiatif tak pulang. "Soalnya jarang-jarang manggang dan makan sate sama-sama," ujarnya.
Hari ini, di pelataran pondok pesantren yang di asuh Kiyai Haji Shalahudin Wahid itu sengaja disediakan tiga baris bata sepanjang 35 meter sebagai skat arang yang digunakan untuk perapian tempat memanggang sate. Di sisi kanan dan kiri perapian itu berjajar tak beraturan ratusan santri yang antre memanggang sate.
Menurut Ketua Panitia Penyembelihan Hewan Kurban Lukman Hakim, pada Idul Adha kali ini pondok mendapat bantuan 13 sapi dan 10 kambing dari masyarakat sekitar dan wali santri. Hewan kurban merupakan titipan. Dagingnya, kata dia, akan dibagikan kepada masyarakat, dan beberapa bagian kecil di makan santri sendiri. "Ini program tahunan pondok. Daging akan kami bagi ke beberapa dusun di sekitar pondok. Santri juga kebagian, semoga saja bisa merata," kata ustadz yang juga ketua pengurus pondok di ujung selatan Kota Jombang ini.
MUHAMMAD TAUFIK





