Oknum Tentara Aniaya Warga Garut


TEMPO Interaktif, Garut - Hendra Setiawan, 24 tahun, warga Kampung Cibuluh, Desa Sukawargi, Kecamatan Cisupan, Kabupaten Garut, Jawa Barat, dianiaya empat oknum Tentara Nasional Indonesia anggota Batalyon Infantri 303 Setia Sampai Mati, Cibuluh, Garut.

Akibat penganiayaan itu Hendra menderita luka serius. Luka itu di antaranya bersarang di bagian muka, perut dan kaki. Korban juga menderita luka cukup serius pada bagian telinga kiri hingga mengeluarkan darah. “Saya dipukul dan ditendang dengan menggunakan sepatu tentara selama setengah jam,” ujarnya, di Garut, Senin (22/11).

Menurut dia, penganiayaan itu dilakukan di markas Batalyon 303 pada Sabtu (20/11) lalu sekitar pukul 22.00 WIB. Kejadian itu berawal setelah dia pulang dari pusat kota Garut disuruh oleh orang tuanya sekitar pukul 21.15 WIB. Saat melintas di komplek Batalyon, mendadak anggota TNI yang sedang berjaga melempar dia dengan batu. Karena kaget disertai takut, Hendra pun memacu motor Ninja RR yang dikendarainya untuk menjauh dari lokasi itu.

Sekitar 15 menit berselang, saat Hendra berada di rumah Sodikin, tetangga di depan rumahnya, dua orang anggota TNI berseragam militer menjemputnya. Mereka langsung membawanya ke pos penjagaan komplek Batalyon. “Setelah menginterogasi saya, sekitar empat orang tentara langsung menghajar. Alasanya karena saya ngebut mengemudikan motor,” ujarnya.

Karena tidak terima mendapatkan perlakukan itu, orang tua Hendra, Hidayat Solehudin, 48 tahun, melaporkan kejadian tersebut ke Detasemen Polisi Militer Garut, Senin (22/11). Namun ditengah perjalanan, perwakilan Batalion meminta mereka untuk menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan. “Tadinya saya mau melapor, tapi tidak jadi karena mereka mau beritikad baik dengan melakukan perjanjian diatas materai,” ujar Hidayat di salah satu rumah makan yang dijadikan tempat pertemuan antara keluarga dengan TNI.

Perwira Pelaksana Harian Batalyon 303 Cibuluh/Setia Sampai Mati Kapten Galih Perkasa mengakui peristiwa penganiayaan ini. Bahkan, menurut dia, pihaknya telah meminta maaf kepada keluarga termasuk menanggung seluruh biaya pengobatan Hendra sampai sembuh.

Selain itu, Galih mengatakan telah memeriksa empat oknum prajuritnya yang menjadi pelaku penganiayaan. Bahkan dia berjanji akan memberi tindakan dan sanksi yang tegas bagi prajurit yang melanggar aturan. "Pemeriksaan masih berlangsung. Hasilnya akan kami laporkan ke atasan untuk mendapatkan sanksi yang sesuai bagi mereka,” ujarnya.

Sigit Zulmunir




Komentar (2)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
0
0
pk,,,klw nglrng msyrkt utk tdk ngebut d dpan pos,,, coba pk tntra jg jng ngebut2 d jln umum,,spya adil,,,!!!
0
0
kerjanya cuma bikin onar, lewat depan markasnya ada kawat makan setengah jalan kenapa ga bikin markas dihutan klo orang ga boleh lewat depan markasnya??, kerjaan ga ada gaji buta, tapi klo disuruh lawan malaysia terkencing2, beraninya cuma ama warga sipil ato polisi, sama orang luar takut, mereka ini klo disuruh perang lebih pilih disersi :)
; $foto_slide_judul = ; $foto_slide_judul =
Wajib Baca!
X