foto

Delman. Tempo/Aris Andrianto

Surakarta Gelar Lomba Desain Celana Buat Kuda

TEMPO Interaktif, Surakarta -Perwujudan lingkungan yang bersih dan nyaman menjadi tujuan pemerintah kota Surakarta. Termasuk mengurangi berbagai penyebab kotornya kota. Satu di antaranya adalah mengurangi kotoran kuda dari setiap kuda yang melintas di jalan-jalan di Surakarta. 


Kepala Badan Lingkungan Hidup Surakarta Sri Adhyaksa mengatakan, kotoran kuda membuat jalanan menjadi tidak sedap dipandang. “Dan membuat kota jadi bau,” kata Sri Adhyaksa saat dihubungi Tempo, Minggu (28/11).

Sri ingin setiap kuda yang lalu lalang di jalan-jalan protokol di Surakarta wajib memakai celana khusus. Celana tersebut berfungsi untuk menampung kotoran kuda, agar tidak jatuh ke jalan. “Ini sebagai upaya agar lingkungan kota semakin bersih dan tambah nyaman,” lanjutnya.

Demi merealisasikan gagasan tersebut, pemerintah Surakarta mengadakan sayembara desain celana kuda. Masyarakat diundang berpartisipasi dalam lomba tersebut. Pendaftaran sudah dibuka sejak 18 November dan akan ditutup pada 6 Desember mendatang. 

Desain yang menang dalam lomba akan digunakan sebagai model celana kuda yang wajib dipakai setiap kuda. “Entah kuda yang digunakan untuk menarik bendi, dokar, delman, atau kuda tunggangan,” katanya.

Badan Lingkungan Hidup Surakarta juga menyiapkan anggaran Rp 30 juta untuk membuat sekitar 100 buah celana kuda. Celana tersebut kemudian dibagikan kepada penarik bendi, dokar, atau delman secara cuma-cuma. “Sasaran utamanya kepada penarik bendi yang jumlahnya ada 60 orang,” Sri menjelaskan.

Salah seorang penarik bendi di kawasan Monumen 45 Banjarsasi, Ari, mengaku belum tahu tentang rencana pemakaian celana khusus untuk kuda. Dia sendiri berpendapat, kebijakan tersebut justru menyulitkan dirinya. “Repot kalau harus membuat celana kuda. Buang-buang uang,” jelasnya. 

Memang, membuat celana kuda seperti yang diharapkan pemerintah Surakarta butuh dana Rp 300-400 ribu. Sementara tempat penampungan kotoran yang dibuat Ari, berupa bekas karung goni yang di ikat karet dan diletakkan tepat di tempat keluarnya kotoran, hanya butuh uang tidak sampai Rp 5 ribu.

Penarik bendi lainnya, Wiji, mengakui jika tempat penampungan kotoran yang dia buat memang tidak sepenuhnya mencegah kotoran jatuh ke jalan. “Pasti ada yang jatuh. Tapi tidak banyak,” ucapnya. Dia menyatakan tidak perlu harus dengan celana khusus, untuk mencegah kotoran kuda mengotori jalan. “Dengan tempat yang kami buat sendiri, sebenarnya sudah lumayan mencegah,” jelasnya. 

UKKY PRIMARTANTYO