Bangunan di Sepadan Sungai di Sidoarjo Ditertibkan

TEMPO Interaktif , Sidoarjo -  Dinas Pekerjaan Umum dan Pengairan Kabupaten Sidoarjo gencar menertibkan bangunan di sepanjang aliran sungai. Penertiban dilakukan untuk mencegah banjir, lantaran tercatat 1.500 bangunan melanggar sepadan sungai. Sesuai aturan, maksimal batas bangunan lima meter dari bibir sungai. ”Diperingatkan agar membongkar bangunan sendiri atau dibongkar paksa,” kata Kepala Seksi Bina Manfaat Dinas Pekerjaan Umum dan Pengairan Sidoarjo, Sunarti Setyaningsih, Jumat (3/12).


Dinas Pekerjaan Umum dan Pengairan berkoordinasi dengan Satuan Polisi Pamong Praja dan Badan Pertanahan Nasional untuk mendata bangunan yang melanggar sepadan sungai. Dia berharap agar Badan Pertanahan Nasional (BPN) tak mengeluarkan sertifikat tanah yang berada di daerah sepadan sungai. Akibat bangunan liar ini, badan sungai mengalami penyempitan sehingga menyebabkan banjir saat musim hujan.


Sejumlah kanal dan sungai menyempit terdesak bangunan berupa rumah, toko, dan gudang. Kanal Buntung sepanjang 35 kilometer menuju Balongbendo, misalnya, terdesak bangunan rumah. Tercatat ribuan bangunan seperti rumah dan bangunan lainnya menyebabkan kanal Buntung menyempit. Sehingga saat musim hujan banjir menerjang kawasan rumah penduduk di sekitar kanal Buntung tersebut.


Untuk itu, Pemerintah Kabupaten Sidoarjo membentuk tim penertiban terdiri dari Satuan Polisi Pamong Praja, Badan pelayanan Perizinan Terpadu, dan Dinas Pekerjaan Umum. Tim penertiban segera berkoordinasi untuk menertibkan bangunan liar tanpa izin yang berdiri di sepanjang sepadan sungai. Selain itu, Dinas Pekerjaan Umum Pengairan akan melakukan normalisasi atau memperlebar badan sungai. Serta mengeruk sungai yang mengalami sedimentasi akibat tumpukan pasir dan sampah yang memenuhi badan sungai.


Kanal Buntung meluap akibat hujan deras yang mengguyur Sidoarjo selama lima jam lebih. Sehingga menggenangi enam Desa di antaranya Kedungrejo, Janti, Kureksari, Wedoro, Kepuh Kiriman dan Gedongan Wadungasri. Genangan air mencapai lutut orang dewasa, menggenangi rumah serta sejumlah sekolah. "Saluran air tersumbat sampah," kata warga Wedoro, Abdul Rochim.


EKO WIDIANTO