Dituduh Terima Suap, Akil Mochtar Akan Melapor ke KPK


TEMPO Interaktif, Jakarta - Tidak terima dituduh terima suap, Jumat (10/12) besok hakim Mahkamah Konstitusi Akil Mochtar berencana melaporkan masalah dugaan kasus suap di MK ke Komisi Pemberantasan Korupsi. "Saya tidak terima, saya tidak kenal siapa pun," kata Akil, Kamis (9/12).

Dugaan kasus suap di MK terkait kasus gugatan Bupati Simalungun, Jopinus Ramli Saragih, di Mahkamah Konstitusi pada April 2010. Kasus tersebut ditangani oleh hakim Akil Mochtar.

Berdasar testimoni Refly Harun dan Maheswara Prabandono ke tim investigasi hakim konstitusi, Bupati Simalungun meminta Refly untuk menurunkan biaya pengacara menjadi Rp 2 miliar saja. Karena duit sebesar Rp 1 miliar akan diberikan si bupati ke seorang hakim MK. "Dalam pembicaraan itu disebut nama saya," kata Akil.

Menurut Akil, saat bupati meminta korting biaya pengacara dengan alasan Rp 1 miliar untuk hakim, Refly langsung melaporkan ke Mahkamah karena ada upaya suap. "Kenapa diam saja, kenapa menunggu dulu, kenapa nulis di koran dengan opini, kenapa bentuk tim, itu yang akan saya laporkan," ujar Akil.

Untuk itu, besok Akil berencana melaporkan kasus ini ke Komisi Pemberantasan Korupsi karena dia tidak menerima dituduh terkait Bupati Simalungun.

Ketika ditanya, siapa yang akan dilaporkan ke KPK, Akil menyatakan orang yang menuduh menyuap dirinya. "Kan bupati bilang uang itu untuk hakim MK. Kalau Refly nanti kan berkembang, kan dia tahu ada tawar menawar uang fee."

Mengenai pelaporan pencemaran nama baik dengan terlapor Refly, Akil mengaku tidak merencanakannya. "Kurang tinggi hukumannya, tidak usahlah. Kalau suap akan jadi delik korupsi," ujarnya.

Semula Akil berencana melaporkan kasus upaya suap itu ke KPK pada Kamis (9/12) hari ini, namun atas saran Ketua Mahkamah Kostitusi Mahfud MD, dia mengurungkan niatnya. "Sya sudah tidak tahan, tadi minta laporkan hari ini, tapi Pak Mahfud bilang konperi pers dulu, Jumat besok (dilaporkan)" kata dia.

Akil juga mengomentari kerja tim investigasi yang tidak tuntas sampai ke Bupati Simalungun. "Bupati hanya sekali ditelepon tapi langsung hilang kontak," katanya.

Tim investigasi, kata Akil, hanya mencari konfirmasi dari orang yang diduga sopir Bupati Simalungun, Purwanto. Setelah didatangi anggota tim, Saldi Isra, Purwanto mengaku tidak punya urusan sama perkara MK. "Putus di situ, tidak ada investigasi lagi. Kenapa mereka tidak datangi Bupati Simalungun," kata dia.

CORNILA DESYANA

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Wajib Baca!
X