Pembangunan SDM Indonesia Membaik
Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI) melakukan aksi demo di depan Istana Wakil Presiden, SRMI menilai satu tahun pemerintahan SBY-Boediono tidak membawa perubahan banyak terutama untuk rakyat miskin. TEMPO/Subekti
Topik
TEMPO Interaktif, Jakarta -United Nations Development Programme (UNDP) melansir data Human Development Index (HDI) terbaru untuk 169 negara. Peringkat Indonesia menanjak ke urutan 108 dari 111 pada tahun lalu. "Kami melihat Indonesia juga mengalami tren peningkatan sejak HDI pertama diluncurkan," ujar UNDP Country Director Beate Trankmann kepada wartawan di Hotel Le Meridien, Jakarta, Jumat (10/12).
Peringkat ini membuat Indonesia berada pada tingkat pembangunan menengah bersama Cina (peringkat 89), Mongolia (peringkat 100), Afrika Selatan (peringkat 110), Vietnam (peringkat 113), India (peringkat 119), dan Timor Leste (peringkat 120). Negara Asia Tenggara yang masuk ke dalam kategori pembangunan tinggi adalah Malaysia (peringkat 57). Sementara Singapura dan Brunei Darussalam termasuk kategori pembangunan manusia amat tinggi dengan peringkat masing-masing 27 dan 37.
Menurut dia, peningkatan peringkat Indonesia didorong oleh berbagai faktor. Dia menyebutkan beberapa faktor tersebut seperti pendapatan masyarakat Indonesia yang bertumbuh positif dalam beberapa tahun terakhir menjadi US$ 3.957 per kapita, dan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) yang signifikan dibandingkan negara-negara lain.
Perhitungan HDI tahun ini mengalami perubahan yang signifikan. "Sebelumnya kami menerapkan indikator kuantitatif, namun sekarang kami menggantinya dengan indikator kualitatif," kata dia. Tiga indikator utama dalam perhitungan HDI adalah sisa waktu hidup sejak kelahiran, tingkat baca-tulis orang dewasa, dan pendapatan.
Angka sisa waktu hidup sejak kelahiran manusia Indonesia adalah 71,5 tahun dengan rata-rata waktu mengenyam pendidikan selama 5,7 tahun.
Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional Armida Alisjahbana menyambut baik hasil ini. Menurut dia, Indonesia menunjukkan perkembangan yang signifikan dalam perhitungan HDI. "Artinya pembangunan kita ada pada arah yang benar."
Dia menambahkan, HDI dapat dijadikan tolok ukur perkembangan manusia di suatu negara. Perhitungan sisa waktu hidup sejak kelahiran, kata dia, mengindikasikan kesehatan dan harapan hidup. Ukuran tingkat baca-tulis orang dewasa menunjukkan tingkat pendidikan dan pengetahuan. Sementara pengukuran pendapatan mengindikasikan standar kehidupan yang berhubungan dengan pendapatan domestik bruto pada tingkat daya beli.
Armida mengatakan, metodologi baru yang diperkenalkan UNDP dalam menghitung HDI memungkinkan Badan Pusat Statistik (BPS) mengembangkan perhitungan indek pembangunan manusia (IPM) tahunan dengan rincian yang lebih baik. "BPS bisa menghitung IPM pada tingkat nasional, provinsi, dan kabupaten," ujarnya. Namun, kata dia, BPS harus bekerja keras untuk mempelajari metodologi baru ini.
ANTON WILLIAM
Komentar (0)
Berita Terkait
Top Stories
Foto Terbaru
Editor's Choice
- Kementerian Kehutanan Gandeng TNI untuk Merehabilitasi Hutan
- Rekaman Paus Berdoa Usir Setan Dibantah Vatikan
- 150 Tahun Pastur Van Lith Dirayakan
- Australia Kembangkan Gas Dari Kotoran Babi
- WHO Antinegosiasi Dengan Industri Tembakau
- Luthfi Hasan Diduga Punya Tanah 2 Hektare di Bogor
- Dahlan Iskan: KJS Ditolak, Askes Dievaluasi













