foto

Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad. AP Photo/Andy Wong

Iran Hapus Subsidi BBM dalam 5 Tahun  

TEMPO Interaktif, Teheran - Mulai Ahad lalu, pemerintah Iran menaikkan harga bahan bakar minyaknya dari 1.000 riyal (sekitar US$ 9 sen) menjadi 4.000 riyal (sekitar US$ 40 sen) per liter.
Kenaikan ini merupakan bagian dari kebijakan pemerintah Presiden Ahmadinejad untuk menghapus subsidi bahan bahan bakar minyak dan gas dalam lima tahun ke depan demi menyelamatkan anggaran negara.

Pasalnya, saban tahun Iran harus mengeluarkan subsidi energi sekitar US$ 100 miliar. Sebagian ekonom berpendapat kenaikan ini akan mengangkat inflasi. Sebagian lagi mengatakan langkah ini sejalan dengan rekomendasi organisasi keuangan dunia untuk memecahkan persoalan ekonomi Iran.

Menurut mission chief Dana Moneter Internasional Monetary, Dominique Guillaume, beberapa waktu lalu, Negeri Para Mullah memiliki cadangan minyak senilai US$ 10 triliun, ditambah cadangan gas US$ 3,5-4,5 triliun.

Walaupun minyaknya berlimpah, Iran tetap mendorong program nuklirnya. Karena itu, banyak komunitas internasional, terutama Amerika Serikat, yang cemas dan menjatuhkan sanksi ekonomi terhadap negara itu.
Sanksi tersebut membuat perekonomian Iran hanya mampu tumbuh sekitar 2 persen. Tapi pemerintah Iran mengatakan negara itu butuh tenaga nuklir untuk menggerakkan perekonomiannya.

Subsidi, kata ekonom senior IMF, Roman Zytek, membuat rakyat Iran membayar murah minyak dan gas, jauh di bawah harga dunia. Akibatnya, negara itu kehilangan potensi pendapatan.

Kantor berita Iran, IRNA, mengatakan banyak warga Iran yang menggunakan bahan bakar secara tidak masuk akal. Temuan itu sejalan dengan pendapat Zytek, yang mengatakan bahwa warga Iran berlebihan membeli minyak dan gas.

Reformasi subsidi ini, kata dia, bermanfaat menekan permintaan domestik terhadap bahan bakar, membuat negara lebih efisien, dan meningkatkan pendapatan negara dari sumber daya alam.

CNN | EFRI RITONGA