foto

ANTARA/Lucky.R

20 Persen Perempuan NTB Menjadi Kepala Rumah Tangga  

TEMPO Interaktif, Mataram  -  Saat ini kondisi perempuan di Provinsi Nusa Tenggara Barat masih  memperihatinkan karena sebanyak 22 persen perempuan NTB masih buta aksara, dan lebih 20 persen perempuan bertindak sebagai kepala rumah tangga.


Mereka itu, antara lainnya perempuan lajang yang menjadi tulang punggung keluarga,  perempuan yang memiliki suami tetapi pengangguran atau sakit permanen, suaminya telah meninggal atau yang telah bercerai namun menanggung beban anaknya.

‘’Karena itu kami bersama organisasi wanita melakukan berbagai upaya mengentaskan mereka,’’ kata Wakil Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga Nusa Tenggara Barat, Elok Badrul Munir seusai peringatan Hari Ibu ke-82 di Mataram, Rabu (22/12) siang.

Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana NTB Ratningdiah menyebut, banyaknya perempuan NTB yang menjadi kepala keluarga itu disebabkan perkawinan usia dini yang tidak siap. ‘’Paling banyak karena status perceraian,’’ katanya

Karena itu, Pemerintah Provinsi NTB berupaya meningkatkan usia perkawinan agar dapat mencegahperceraian dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Menurut Ratningdiah, rendahnya pendidikan perempuan NTB, membuat posisi tawar perempuan  rendah.

Hasil survei Badan Pusat Statistik NTB menyebutkan, bahwa jumlah penduduk perempuan di NTB lebih besar dibandingkan penduduk laki-laki. Hasil Sensus Penduduk 2010 yang jumlah keseluruhannya 4.496.855 jiwa, penduduk perempuannya 2.316.687 jiwa atau lebih banyak 136.519 jiwa dibandingkan penduduk laki-lakinya sebanyak 2.180.168 jiwa.

Jumlah kepala rumah tangga perempuan di NTB mencapai 20,41 persen, mereka sebanyak 77,75 persen tidak atau belum pernah sekolah dan tamat SD, kemudian 57,14 persen statusnya janda. Dari jumlah itu, 56,47 persen bekerja sebagai buruh tani.

Rata-rata umur pada perkawinan perempuan NTB adalah 19,59 tahun. Usia perkawinan terendah berada di Kabupaten Lombok Timur, yakni  18,45 tahun dan usia perkawinan tertinggi perkawinan berada di Kota Bima, yakni 22 tahun. Kalau dilihat per pulau, di Lombok usia menikahnya rata-rata 18,93 tahun dan di Sumbawa 20,74 tahun.

Di NTB, angka perceraian bagi kepala rumah tangga perempuan juga tinggi, yakni  57,14 persen. “Mereka umumnya berpendidikan rendah, kemampuan ekonomi rendah dan terlalu cepat menikah,” ujae Ratningdiah.

SUPRIYANTHO KHAFID