BEI Berharap Penerbitan Kontrak Investasi Naik

TEMPO Interaktif, Jakarta -Otoritas Bursa Efek Indonesia berharap makin banyak bank yang menerbitkan Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset (KIK EBA). "Penerbitan efek ini merupakan salah satu cara untuk menampung dana global sehingga hotmoney dapat dimanfaatkan oleh sektor riil," kata Direktur Utama BEI Ito Warsito di Jakarta, 29 Desember 2010.

Kontrak investasi ini merupakan instrumen investasi yang berbasis sekuritisasi kumpulan tagihan KPR dari bank. Direktur Bursa Efek Indonesia Wan Wei Yiong menjelaskan bahwa investasi ini lebih banyak diminati oleh investor institusi. Hal itu menyebabkan penjualan KIK EBA di pasar sekunder kurang cair. "Banyak yang berminat, tapi jarang yang mau menjual," kata Yiong.

Pasar ini masih dikuasai oleh BTN sebagai bank plat merah. Sejak pencatatan pertama pada Februari 2009, sudah tiga produk KIK EBA yang tersedia di pasar. Ketiganya merupakan terbitan BTN.

Direktur Utama PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) Erika Suroto mengakui bahwa belum ada bank lain yang akan menerbitkan kontrak investasi dalam waktu dekat. "KIK EBA merupakan produk baru yang masih butuh banyak sosialisasi, prosesnya memang lebih sulit dari obligasi," kata Erika. SMF sebagai pengatur dan pendukung kredit telah mendekati 15 bank untuk ikut menerbitkan KIK EBA.

KIK EBA Bank BTN Tbk senilai Rp 750 miliar mulai diperdagangkan hari ini. "KIK EBA adalah solusi untuk menyeimbangkan usia pendanaan BTN yang tak seimbang," kata Direktur Utama BTN Iqbal Latanro saat peluncuran KIK EBA di Bursa Efek Indonesia.

Pendanaan BTN didominasi pendanaan jangka pendek. Padahal, kredit perumahan BTN berjangka panjang. Kondisi ini menimbulkan maturity mismatch yang tak sehat. "Untuk mendorong pertumbuhan kredit jangka panjang BTN perlu pembiayaan jangka panjang pula," kata Iqbal.

Jangka waktu KIK EBA ketiga BTN ini lima tahun dengan kupon 9,25 persen yang dibayar setiap tiga bulan. Dana hasil penjualan KIK EBA seluruhnya akan digunakan untuk menambah portofolio kredit.

Tahun ini kredit BTN mencapai Rp 20 triliun. Tahun depan pertumbuhan kredit diharapkan mencapai 25 hingga 30 persen. "Sekuritisasi aset ini akan membantu BTN mencapai target itu," kata dia.

Iqbal berniat kembali menerbitkan KIK EBA tahun depan. "Tahun depan akan terbitkan dengan jumlah lebih besar, setidaknya lebih dari Rp 1 triliun," kata dia. Kupon instrumen ini diharapkan lebih rendah dari saat ini karena kondisi suku bunga diharapkan lebih rendah.

FAMEGA SYAVIRA