Pembukaan festival budaya Lovely December In Toraja 2010 di Makale, Kabupaten Tana Toraja, Sulsel. TEMPO/Hariandi Hafid
Topik
Mengantar Nek Tapuk ke Surga
TEMPO Interaktif, Makassar - Jika ingin berwisata ke Toraja, pilihlah waktu yang tepat, yakni pada akhir tahun. Karena ini menjadi momen istimewa bagi warga Tana Toraja dan Toraja Utara. Mereka melangsungkan ritual Rambu Solo'', yakni upacara kematian. Alasan itu pula yang membuat pemerintah menetapkan Desember menjadi bulan wisata di Toraja, yang dikenal dengan event Lovely December.
Dalam perjalanan ke Toraja kali ini, saya tak hanya mengunjungi tempat-tempat wisata, seperti kawasan rumah Tongkonan Kete'' Kesu, kuburan batu Lemo, dan kuburan Gua Londa. Saya berkesempatan menyaksikan ritual Rambu Solo'' terbesar tahun ini, yakni pesta kematian almarhumah Theresia Tangdo Pole atau Nek Tapuk di desa Deri, Kecamatan Sesean, Kabupaten Tana Toraja. Perhelatan akbar ini berlangsung selama 15 hari, dari 27 Desember 2010 hingga 10 Januari 2011.
Rambu Solo'' adalah upacara kematian warisan tradisi Aluk Todolo--kepercayaan leluhur Toraja. Upacara ini menjadi momen berkumpulnya keluarga besar almarhumah untuk bersama-sama mengadakan pesta mengantarkan jenazah ke pemakaman. Tak hanya keluarga besar yang meramaikan acara. Pengunjung dan wisatawan ikut menyaksikan tradisi khas Toraja ini.
Khusus keluarga dekat, seperti anak-anak dan menantunya, mereka mengenakan pakaian dan kerudung serba hitam. Mereka menjamu tamu dengan buah sirih, tembakau, dan permen sebagaimana tradisi nenek moyang mereka. Kegiatan ini disambut dengan ritual Mantarima Tamu. Tamu ini menempati pondok penerima tamu. Sejumlah tari-tarian khas Toraja ditampilkan untuk menghibur tamu yang datang, seperti tarian Passailo''.
Nek Tapuk meninggal dunia pada 31 Juli 2008. Namun ritual Rambu Solo'' baru digelar sekarang, karena orang Toraja membutuhkan waktu untuk mengumpulkan keluarga serumpunnya. Mereka bermusyawarah untuk menentukan pelaksanaan Rambu Solo''. Pembicaraan seputar biaya yang akan dikumpulkan serta waktu pelaksanaannya dibahas bersama.
Ketua Yayasan Kalimbuang Bori'' Samuel Padda, yang juga pemangku adat setempat, mengatakan ritual Rambu Solo'' Nek Tapuk ini adalah ritual pada tingkatan ketujuh, yaitu tingkatan Rambu Solok tertinggi. Karena rangkaian ritualnya paling lengkap. Selain itu, ritual ini menghabiskan biaya paling besar, yakni Rp 3,5 miliar untuk penyediaan hewan-hewan persembahan. Namun untuk ritual Rambu Solo'' tingkatan terendah, hanya menghabiskan biaya di bawah Rp 100 juta. Sedangkan yang menengah menghabiskan biaya sekitar Rp 1 miliar dan yang tertinggi di atas Rp 3 miliar.
Upacara Nek Tapuk ini menghadirkan hewan-hewan persembahan terlengkap, yaitu 108 kerbau dari 17 jenis, termasuk kerbau bonga jenis ta''bu sura'', yang harganya mencapai Rp 350 juta per ekor. Ada juga kerbau baliian, yang sangat unik, karena panjang tanduknya mencapai empat meter. Tak hanya itu, disiapkan juga dua ekor kuda, satu berwarna putih dan satunya berwarna hitam. "Ini melambangkan percaturan hidup," kata Yusuf Silambi, putra almarhumah yang juga seorang pengusaha kayu di Kalimantan. Selain itu, ada kijang, sapi, dan ratusan babi sebagai hewan persembahan untuk mengantar arwah ke surga.
Rangkaian ritual ini ada 15 tahapan, dimulai dari Ma''parokko Paladi, yakni ritual menurunkan jenazah dari atas rumah Tongkonan, tempatnya disemayamkan. Hari berikutnya adalah acara mengumpulkan hewan persembahan, khusus kerbau diadu. Tak hanya itu, manusia juga ikut diadu. Kegiatan ini dikenal dengan nama ritual Masemba''. Kegiatan ini berlangsung di lapangan Sekolah Dasar Deri, yang tak jauh dari rumah duka. "Ini ritual untuk menghibur para tamu," kata Yusuf.
Pada 31 Desember, jenazah Nek Tapuk diarak keliling kampung. Kemudian disemayamkan di atas rante--semacam singgasana tempat berlangsungnya pusat acara. Di sinilah acara Mantarima Tamu dimulai hingga akhir acara. Pada kesempatan ini, hewan-hewan persembahan itu dipotong, kemudian dihidangkan kepada tamu. Sebagian daging hewan itu dibagi-bagikan kepada warga.
Senin mendatang, tepatnya 10 Januari, tahapan terakhir rangkaian upacara dilaksanakan, yakni prosesi pemakaman Nek Tapuk di kuburan batu keluarga yang masih berada di wilayah Deri. Dalam setahun, acara Rambu Solo'' di Toraja bisa mencapai belasan. Lurah Deri Andrias Palimbang mengatakan akhir tahun ini, selain pesta kematian Nek Tapuk, ada dua acara yang waktunya digelar hampir bersamaan. Pemerintah sangat mendukung acara ini karena bisa dijual sebagai obyek wisata. Sebagai bentuk penghargaan, pemerintah memberikan sertifikat kepada keluarga setelah menggelar ritual Rambu Solo''.
| SUKMAWATI





