TEMPO/Arif Fadillah
Topik
Minggu, 09 Januari 2011 | 06:24 WIB
Komunikasi Sebelum Kontrasepsi
TEMPO Interaktif, Jakarta - Teguh Satyadi, 36 tahun, bingung bukan kepalang. Sang istri, Nanda Juwita, 32 tahun “protes” kepadanya. “Setelah melahirkan anak kami yang kedua, dia enggak mau lagi pakai alat kontrasepsi dan malah meminta saya yang ikut KB (keluarga berencana),” ujar Teguh ketika dihubungi Tempo kemarin.
Nanda tidak mau menggunakan kontrasepsi, ia melanjutkan, karena intra-uterine-device (IUD) di dalam rahimnya tidak terpasang dengan baik. “Sehingga ia sempat (mengalami) perdarahan,” ujar pria yang tinggal di kawasan Dago, Bandung, ini.
Teguh dan Nanda, yang menikah pada pertengahan 2008, memang baru saja memutuskan untuk memakai alat kontrasepsi setelah memperoleh anak kedua. “Setelah anak pertama lahir, kami memang tidak ber-KB,” ujar Teguh.
Yang menjadi masalah saat ini, kata pria yang bekerja di salah satu perusahaan swasta di daerah Cicadas, Bandung, itu, adalah dia ogah memakai alat kontrasepsi. “Gimana, ya, saya agak tidak suka kalau memakai kondom, karena rasanya gimana gitu…,” katanya malu-malu.
Keadaan seperti ini kerap terjadi pada pasangan yang ingin membatasi jumlah anak namun si suami enggan menggunakan alat kontrasepsi. Dibanding perempuan, pilihan program KB bagi pria relatif lebih terbatas. Selain penggunaan kondom, pilihan lainnya saat ini adalah vasektomi.
Seperti wanita, menurut psikolog Kasandra Putranto, ada pria yang tak selalu easy going. Ada kelompok pria yang akan merasa tertekan jika ia dipaksa melakukan sesuatu oleh pasangannya. Jika pria kelompok ini merasa tertekan, ia akan merasa tidak nyaman dan kesal. “Kalau sudah begini, dampak ekstremnya, suami bisa ganti istri,” ujar penulis buku Metamorfosis ini.
Sebaliknya, ada juga kelompok pria yang lebih cuek dan easy going. “Ketika istrinya meminta sesuatu pada suami, si suami hanya berpikir: ya udah, enggak apa-apa,” Kasandra melanjutkan.
Begitu pun dengan wanita (istri). Ada kelompok wanita yang moody dan lebih sensitif. “Jika terpaksa melakukan sesuatu, istri tipe ini akan mudah terganggu psikologinya. Ia akan marah, kecewa, dan stres,” kata Kasandra. Berlawanan dengan kelompok ini, ada juga kelompok istri yang lebih rileks dan berani.
Karenanya, masalah pasangan seperti ini mesti dilihat secara spesifik per kasus dan per individu, tak bisa digeneralisasi. “ Karena tergantung kepribadiannya masing-masing,” kata psikolog yang berkantor di kawasan Kramat Pela, Jakarta Selatan, ini.
Membatasi jumlah anak melalui Keluarga Berencana, kata Kasandra, adalah sesuatu yang harus diprogramkan. “Saat hendak memasang KB, biasanya ada konseling atau konsultasi oleh petugas KB,” ujar Kasandra.
Saat konseling inilah, kesulitan-kesulitan yang dialami Teguh dan Nanda dapat dikonsultasikan kepada petugas. Namun, jika salah satu atau pasangan mengalami gangguan psikologis yang sulit untuk ditangani oleh petugas, barulah pasangan bisa berkonsultasi pada psikolog. “Jika ada problem individu yang lebih berat, baru bisa ke psikolog,” ujar Kasandra.
Sementara itu, psikolog dari Ashanda Consulting, Aschinfina Handayani, menekankan bahwa pasangan mesti memperhatikan mutual respect pada pasangannya. “Pasangan harus menghormati satu sama lain. Perlu ada komunikasi dan kerja sama yang baik dari pasangan,” kata Aschinfina.
Respek yang dimaksud Aschinfina adalah suami atau istri mesti menghormati kenyamanan pasangannya. Respek terhadap pasangan juga berarti menerima segala kekurangan dan kelebihan pasangan.
“Misalnya jika istri ber-KB, suami mesti menghormati apakah alat kontrasepsinya mengganggu kenyamanan sang istri saat melakukan kewajibannya sebagai istri,” kata Aschinfina.
Begitu pun sebaliknya jika suami yang menggunakan alat kontrasepsi. “Karena, jika salah satu merasa tidak nyaman, akan berefek pada emosi. Suami atau istri bisa saja menjadi sensitif dan mudah marah,” kata Aschinfina
Keadaan seperti ini, ujar Aschinfina, dapat memicu konflik dalam keluarga jika dibiarkan terus-menerus. Karenanya, bila konflik membesar, pasangan lebih baik mengunjungi psikolog klinis. “Kalau konflik sudah membesar, perlu ada pihak ketiga yang netral,” kata Aschinfina.
Dalam penggunaan alat kontrasepsi pun, Aschinfina menambahkan, perlu diperhatikan keadaan tubuh pasangan dan efek samping dari alat kontrasepsi yang akan dipakai. “Organ reproduksi wanita lebih kompleks dibanding pria. Pasangan mesti cari tahu alat kontrasepsi apa yang cocok untuk dirinya,” kata Aschinfina.
FANNY FEBIANA






