foto

sxc.hu

Tidak (Belum) Menikah, Bukan Sebuah Petaka

TEMPO Interaktif, Jakarta - Artis Anya Dwinov tidak ambil pusing soal statusnya yang belum menikah. "Mikir keinginan menikah pasti. Tapi, kalau memang belum dapat, kenapa harus dipaksakan?" tuturnya saat ditemui dalam sebuah diskusi terbatas tentang kehidupan para single di Jakarta beberapa waktu lalu. Bagi dia, status belum menikah bukan karena dia tak menginginkan. "Memang belum waktunya, yang penting saya bahagia," dia melanjutkan.


Lain lagi dengan Mahligai, yang berprofesi sebagai pemilik butik bunga potong di kawasan Kelapa Gading. Wanita berusia 41 tahun yang masih terlihat muda menawan ini mengaku belum tertarik untuk menikah. "Memangnya kenapa kalau tidak menikah, toh bukan sebuah petaka? Aku cukup bahagia dengan kehidupan sekarang. Kalau terlalu memaksakan diri menikah justru berakibat fatal," tuturnya.

Akibat fatal yang dimaksud wanita yang biasa disapa Igai ini tidak ingin bernasib seperti sang kakak. Igai mengisahkan kakaknya, Andira, berusia 45 tahun. Tadinya ia hidup sebagai wanita lajang yang berprestasi, berkarier cemerlang, mapan, dan mandiri. Tapi, karena desakan keluarga dan lingkungan, sang kakak pun terburu-buru menikah.

Namun, setelah menikah, sang kakak justru menghadapi masalah baru: suaminya pembohong dan hidup sebagai parasit. Karena tidak berani bertindak membebaskan diri, Andira justru depresi dan menderita kanker usus. Kisah hidup Andira kian miris dan sedih. Suaminya tak punya mata pencarian jelas dan hanya menghabiskan harta Andira. Sementara itu, dia bertaruh dan berjuang sendirian melawan kanker yang terus menggerogotinya hingga ajal menjemputnya.

"Kisah hidup Andira membuatku membuka mata. Tidak atau belum menikah bukan sebuah petaka. Aku bisa berbuat banyak hal meski dengan status lajang. Yang penting berbuat banyak yang bermanfaat bagi orang lain dan bahagia."
 
Psikolog Kassandra A. Putranto hanya tersenyum tipis menyimak kisah kehidupan para lajang yang kini semakin banyak jumlahnya. "Tidak ada yang salah. Tapi yang jelas, karena kehidupan semakin pelik dan mereka yang sudah terbiasa hidup sendiri, mandiri, lebih berhati-hati untuk memutuskan menikah," ujarnya.

Kassandra berpesan bagi para lajang yang belum mendapat jodoh agar tak perlu risau, pusing melihat sahabatnya menikah. "Tak perlu bersedih, meski belum ada cincin yang melingkar di jari. Kenapa mesti bersedih jika banyak alasan untuk bahagia saat menjadi single."

Justru saat masih menjadi single, menurut Kassandra, harus yakinkan diri bahwa masih memiliki kesempatan untuk memperluas pergaulan. "Intinya, jangan menutup diri. Berkembanglah sepesat mungkin dan luaskan pergaulan. Siapa tahu mungkin saja salah satu dari mereka yang akan menjadi pasangan hidup," ia menambahkan.

Bahkan, Kassandra mengingatkan, posisi lajang bisa bertualang sesuka hati, tanpa perlu memikirkan orang lain. "Menjalankan hobi dan kegiatan kapan pun. Dan menjadi egois saat masih single bukanlah dosa besar. Tak ada yang akan menyalahkan seseorang yang mementingkan diri sendiri, toh dia tidak mengganggu atau merugikan orang lain," tuturnya.

Psikolog Tika Bisono sependapat bahwa tidak atau belum menikah memang bukan sebuah petaka. "Namun sebaiknya tetap bagi para lajang mencari dan berusaha untuk mendapatkan pria idaman. Yang penting tidak gerasak-gerusuk, yang justru memfatalkan diri. Kesempatan itu pasti datang bila sudah waktunya, jadi tak perlu diburu-buru," katanya.

Tika berpendapat, lebih tepat bila seorang lajang harus memiliki dan melakukan sebuah prestasi apa pun. "Pokoknya, prestasi positif yang membanggakan sebagai nilai lebih. Dengan begitu, si lajang lebih percaya diri dan yakin bila prestasinya itu akan bermanfaat bagi dirinya dan lingkungan sekitar."

Psikolog berambut ikal ini tak setuju terhadap judgment atau ungkapan umum seperti being single I am very happy. "Maksudnya, itu terlalu lebay atau berlebihan. Padahal situasi sebenarnya tidak begitu." Menurut dia, seorang lajang yang sering pede bilang demikian menunjukkan bahwa sebenarnya di hati kecilnya kosong, sedih, sepi, dan sunyi."

Tika mengingatkan, hal terpenting yang harus dimiliki para lajang adalah taft life, yang menjadikan dirinya kukuh seutuhnya. Bila seseorang merasa mampu hidup sendiri dengan segala risiko, hal itu sebuah fondasi bermakna. "Dengan sikap taft life ini, membuatnya bisa bersikap berdaya dan berarti. Jadi tidak ketakutan merasa mendapat jodohnya lama dan akan malu bila harus bercerai atau putus." 

HADRIANI P