Topik
OPEC Naikkan Prediksi Permintaan Minyak
TEMPO Interaktif, Wina - Organisasi Negara-Negara Eksportir Minyak (OPEC) memprediksi permintaan minyak mentah tahun ini bakal lebih tinggi dibanding prediksi sebelumnya. Seiring pemulihan ekonomi global, permintaan minyak itu diperkirakan naik 50 ribu barel per hari dibanding perkiraan bulan lalu menjadi 1,2 juta barel per hari.
Dalam laporan OPEC yang berbasis di Wina ini menyebutkan perekonomian dunia ternyata lebih kuat ketimbang prediksi sebelumnya. "Hal ini terlihat dari makin banyak minyak yang digunakan," seperti dikutip dari laporan, kemarin.
Laporan OPEC juga merevisi pertumbuhan ekonomi dunia tahun lalu, dari semula 4,3 persen menjadi 4,5 persen. Begitu juga dengan angka pertumbuhan di tahun ini dari semula 3,8 persen menjadi 3,9 persen.
Prediksi OPEC ini keluar setelah laporan International Energy Agency hari Senin lalu meminta OPEC lebih fleksibel memutuskan kuota produksinya. Tapi OPEC malah menilai kenaikan harga minyak tidak lepas dari spekulasi di bursa New York Mercantile Exchange. "Harga minyak sudah memberi sinyal, OPEC harus terus diingatkan," kata Direktur Eksekutif IEA Nobuo Tanaka.
Tercatat, pada 28 Desember 2010 nilai transaksi spekulatif mencapai rekor tertinggi sehingga mendorong lonjakan harga minyak light sweet melampaui US$ 91 per barel. Desakan belakangan terhadap harga ini tidak sepenuhnya bisa dijelaskan oleh perubahan fundamental pasar minyak. “Karena cadangan minyak global sebetulnya menunjukkan kemampuan menyuplai pasar dengan baik," kata OPEC.
Negara anggota OPEC juga telah ancang-ancang meningkatkan suplai minyak di atas kuota yang disetujui sebelumnya untuk memenuhi kenaikan permintaan, misalnya dari negara yang emerging market seperti Cina. Per Desember, disepakati sebanyak 130 ribu barel kuota minyak dinaikkan per hari.
Sekretaris Jenderal OPEC Abdalla Salem El-Badri hari Senin lalu menyatakan OPEC tidak akan ikut campur, apalagi karena spekulator. "Untuk awalnya, kami akan menunggu dan melihat bagaimana tren berjalan."
Bursa New York Mercantile Exchange pada memperdagangnya harga minyak jenis light sweet turun menjadi berkisar US$ 91,14 per barel Senin kemarin.
XINHUA | WALL STREET JOURNAL | R. R. ARIYANI





