Minimnya Korban Pasca G 30 S di Jawa Barat Dipertanyakan

TEMPO Interaktif, Jakarta -Pembunuhan sipil pasca G 30 S menelan korban sampai 1 juta jiwa. "Tapi mengherankan, tidak ada korban di Jawa Barat, padahal berbatasan langsung dengan pusat gerakan di Jakarta," ujar Romo Baskara Wardaya, pengajar sejarah Universitas Gajah Mada, di Diskusi Indonesia and the World di GoetheHaus, Jakarta Pusat, Rabu (19/1). "Ini perlu dieksplorasi lebih jauh."

Pembunuhan, Direktur Pusat Sejarah dan Etika Politik ini melanjutkan, dimulai akhir Oktober 1965. Daerah paling parah di Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali. Dalam jumlah kecil juga terjadi di Sumatera Utara, Kalimantan dan Sulawesi Tenggara.

Eksekusi massal itu dipimpin Angkatan Darat dengan bantuan warga yang dipersenjatai.
Orde Baru menyebutkan pembunuhan dilakukan sebagai tindak balas dendam spontan masyarakat terhadap warga komunis. Selain dieksekusi, ribuan orang yang dituduh berhubungan dengan Partai Komunis Indonesia juga diasingkan ke Pulau Buru dan dipenjara di Nusa Kambangan tanpa pengadilan.

Bernd Schafer, Profesor di George Washington University, yang mendalami sejarah Perang Dingin mengatakan minimnya korban di Jawa Barat berkat campur tangan Panglima Komando Daerah Militer Siliwangi Mayor Jenderal Ibrahim Adjie. Penguasa militer ini dipandang sebagai anggota militer yang "kiri" karena beristri perempuan dari negara komunis Cekoslowakia.

Adjie menelan konsekuensi jadi perwira tinggi yang tidak dilibatkan dalam rezim Orde Baru. Oleh Soeharto dia malah diberi tempat tugas yang jauh dari tanah air, sebagai Duta Besar Cekoslowakia.

REZA M