foto

TEMPO/Seto Wardhana

Kenaikan Harga Batu Bara Dongkrak Subsidi PLN

TEMPO Interaktif, Jakarta -Direktur Energi Primer PT PLN (Persero) Nur Pamudji menyatakan subsidi listrik yang dialokasikan oleh pemerintah kepada perusahaan setrum negara itu bisa membengkak sekitar Rp 4-7 triliun. Lonjakan subsidi ini seiring dengan kenaikan harga batu bara yang dikenakan pemasok hingga 20 persen akibat melejitnya harga batu bara.

Seperti diketahui, pemerintah mengalokasikan Rp 40,7 triliun untuk subsidi listrik tahun ini. Adapun PLN menganggarkan Rp 89 triliun untuk memenuhi kebutuhan energi primer, dengan perincian untuk bahan bakar minyak sebesar Rp 48 triliun, batu bara sekitar Rp 25 triliun, sisanya untuk gas dan panas bumi.

"Jadi, kalau harga batu bara naik, untuk anggaran batu bara bisa bengkak hingga Rp 30 triliun," kata Pamudji kemarin. Tahun ini PLN membutuhkan hingga 50 juta ton batu bara untuk semua pembangkit listrik.

Berkaitan dengan hal itu, PLN telah meminta pemerintah mengatur secara tegas soal harga jual batu bara. Sebab, selama terjadi kenaikan harga batu bara, PLN kesulitan mencapai kesepakatan harga dengan Perjanjian Karya Pengusahaan Penambangan Batu Bara, yang selama ini memasok ke PLN.

Kesulitan itu terutama karena tren harga batu bara yang sejak Oktober 2010 terus beranjak naik. Harga batu bara acuan yang tiap bulan diterbitkan pemerintah (Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara) bahkan telah menyentuh US$ 103,41 per ton mulai bulan Desember tahun lalu. Harga acuan ini naik lagi pada Januari 2011, yakni di level US$ 112,41 per ton.

Dari seluruh kebutuhan batu bara itu, ternyata hingga bulan ini PLN mengaku baru mendapat pasokan batu bara untuk tahun 2011 sebanyak 7,2 juta ton buat proyek percepatan pembangunan pembangkit listrik tenaga uap 10 ribu megawatt. Pasokan tersebut didapat dari Arutmin. Harga batu bara ini dihitung dari harga batu bara acuan rata-rata kuartal 4 tahun lalu, yakni batu bara 4.200 kalori.

Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia Supriatna Suhala memperkirakan harga batu bara untuk kategori Indonesian Coal Index I (untuk pembangkit) akan terus naik dan bakal menyentuh level US$ 120 per ton. Padahal normalnya harga batu bara acuan untuk jenis Indonesian Coal Index I berkisar US$ 90-100.

Pemicu kenaikan harga batu bara ini adalah banjir di Australia, yang menyebabkan tambang-tambang ditutup hingga beberapa waktu, ditambah musim dingin yang melanda sebagian negeri Eropa.

GUSTIDHA BUDIARTIE