foto

TEMPO/Wahyu Setiawan

Pengamat : PLN Terancam Defisit Listrik

TEMPO Interaktif, Jakarta -Pengamat ekonomi Institute for Development Economy and Finance (INDEF) Fadhil Hasan mengingatkan krisis listrik hingga beberapa tahun mendatang. Penyebabnya antara lain pertumbuhan konsumsi tidak diimbangi dengan pasokan listrik yang cukup. ”Pertumbuhan konsumsi sebesar 7 persen per tahun, sementara peningkatan pasokan listrik hanya sebesar 4 persen per tahun” kata dia dalam acara breakfast forum CIDES, Kamis (20/1).

Dengan kondisi itu, PT PLN akan kesulitan memenuhi kebutuhan listrik Nasional. Terlebih, hingga kini cadangan listri juga tidak memadai.

Dari kebutuhan cadangan listrik sebesar 30 persen, PLN baru bisa memenuhi 20 persen saja. Solusinya, kata dia, dalam waktu dekat upaya penghematan untuk menekan konsumsi perlu dilakukan.

Cara lain yang bisa diupayakan adalah merangsang sektor swasta agar ikut membiayai pembangunan pembangkit listrik. Sebab, pemerintah dan PLN tak mungkin menanggung seluruh beban investasi perusahaan setrum ini.

Di sisi lain, hingga kini rupanya masih banyak rumah penduduk di daerah-daerah pinggiran yang belum teraliri listrik. Dari 65 ribu desa di seluruh Indonesia, ada 51 ribu desa yang teraliri, sementara sisanya belum. Padahal sesuai Undang-undang Dasar 1945, listrik merupakan salah satu barang/jasa yang tergolong menguasai hajat hidup orang banyak.

Fadhil juga mengasumsikan jumlah keluarga yang menjadi tanggungan dan segera dialiri listri PLN hingga tahun 2020 membengkak. Jika pertumbuhan penduduk mencapai 260 juta jiwa pada 2020. Asumsinya satu keluarga terdiri dari 4 orang, maka ada sekitar 70 juta keluarga pada tahun 2020 yang harus dialiri listrik.”Itu berarti setiap tahun PLN harus menyambung tiga hingga tiga setengah juta pelanggan baru,” katanya.

MUHAMMAD TAUFIK