Mengaku Istri Wartawan Tempo, Intimidasi Sekolah  

TEMPO Interaktif, Kediri - Dua pelajar Sekolah Menengah Pertama Negeri 8 Kota Kediri bertengkar dengan gurunya gara-gara telepon seluler. Sang guru yang mengaku suaminya adalah wartawan Tempo, mengancam akan memberitakan persoalan itu.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Kediri Wahid Ansyori mengatakan, pertengkaran itu terjadi antara Arum Damayanti dan Risky Amelia Wahyuningtyas, keduanya siswa kelas III SMPN 8 dengan gurunya Shoimah, November lalu. Shoimah adalah guru bimbingan dan penyuluhan (BP) yang menyita telepon seluler (ponsel) mereka dalam razia telepon genggam. “Sudah ada peraturan kalau di sekolah dilarang bawa HP,” kata Wahid kepada Tempo, Jumat (21/1).

Arum dan Rizky kesal karena hingga pelajaran usai Shoimah tak kunjung mengembalikan ponsel mereka. Bahkan ponsel tersebut akan dikembalikan lima bulan lagi usai pelaksanaan ujian nasional.

Kekecewaan itulah yang memicu Arum mencurahkan kekesalannya kepada Shoimah melalui status di jejaring sosial facebook. Dalam akun FB-nya dia menulis “Wong wis tuwek kudune eling ape modar iku sing sregep ngibadahe”. Status tersebut langsung dikomentari Rizki dengan kalimat, “oh ya hapeku yo disita, pancen huasu enake dipateni ae”.

Entah bagaimana status tersebut didengar Shoimah. Dia langsung meminta Kepala SMPN 8 Adi Wasito untuk mengeluarkan Arum dan Rizky. Shoimah juga mengancam akan mempublikasikan hal itu ke majalah Tempo, yang diakuinya sebagai tempat suaminya bekerja. Kepada rekan-rekan dan orang tua siswa, Shoimah mengaku jika suaminya yang bernama Fauzan adalah wartawan Tempo. “Pihak sekolah sudah mengupayakan perdamaian tetapi selalu ditolak oleh Shoimah,” kata Wahid.

Tak berhenti di sana, Shoimah dan suaminya juga melaporkan status facebook itu ke Inspektorat Wilayah Kota Kediri. Akibat laporan tersebut, Kepala Inspektorat Haryono memanggil Dinas Pendidikan, kepala sekolah, dan Shoimah. “Suami bu Shoimah juga mengaku sebagai wartawan Tempo,” kata Haryono yang meminta persoalan itu tidak diperpanjang.

Dia menyayangkan sikap Shoimah yang dianggap tidak berbesar hati sebagai pendidik. Menurut dia kasus itu murni kenakalan remaja yang tidak perlu disikapi berlebihan. Apalagi keduanya adalah siswa kelas III yang akan mengikuti ujian nasional.

Dinas Pendidikan berjanji tidak akan mengeluarkan siswa tersebut. Hanya saja keduanya terpaksa dipindah kelas agar tidak bertatap muka dengan Shoimah. “Sebab gurunya juga nggak mau ngalah dan terus meminta dikeluarkan,” kata Saptami Nurhayati, pengawas sekolah yang menangani kasus itu.

Sayang hingga kini pihak SMPN 8 memilih bungkam dan tidak bersedia berkomunikasi dengan wartawan. Salah satu guru di sekolah itu mengatakan mereka trauma berhadapan dengan wartawan seperti yang dilakukan Shoimah dengan suaminya yang mengaku sebagai wartawan Tempo.

Askandar, orang tua Arum Damayanti mengatakan saat ini kondisi psikis anaknya sangat tertekan. Arum sangat takut dikeluarkan dari sekolah hanya gara-gara status facebook yang ditulisnya. “Dia ingin tetap ujian di SMPN 6,” katanya.

Pemimpin Redaksi Tempo News Room Daru Priyambodo memastikan tidak ada wartawan Tempo yang bernama Fauzan di Kediri. “Itu palsu,” ujarnya.


HARI TRI WASONO