Topik
Harga Naik, Produksi PT Timah Melorot
TEMPO Interaktif, Jakarta - Direktur Utama PT Timah (Persero) Tbk, Wachid Usman mengakui, tahun ini perusahannya kesulitan mencapai target produksi. Salah satu hambatannya, banyaknya penambang timah elegal mengerem produksi PT. Timah. "Sulit mencapai target. Banyak penambang ilegal yang menghambat," keluhnya usai Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi Enegri Dewan Perwakilan Rakyat, Senin (7/2).
Dia menjelaskan, ada sekitar 300 penambang ilegal yang mengeruk timah. Hal itu berpengaruh pada produktifitas penambangan. Masalah lain adalah tumpang tindih penggunaan lahan, dan tekanan dari Non Governmental Organization untuk tidak membeli timah dari Indonesia, serta menyusutnya cadangan timah yang mencapai 1 juta ton, dengan lama eksplorasi sekitar 16 tahun.
Padahal, kata dia, kapasitas produksi timah PT Timah mencapai 60 ribu ton. Namun akibat kendala-kendala itu target produksi tak pernah tercapai. Wachid juga menguraikan beberapa kendala lain, di antaranya; kurangnya tenaga terampil, cadangan tambang mulai terbatas, dan fasilitas kapal keruk yang mulai tua.
Kendala-kendala itu tak hanya mengancam target produksi tahun ini. Sejak empat tahun lalu produksi timah terus menurun. Tahun 2007, angka produksi mencapai 58.325 metrik ton. Namun tahun berikutnya, hingga 2010 terus turun, yakni; 49.029 pada Tahun 2008, 45.086 pada Tahun 2009, dan terakhir 40.423 di Tahun 2010.
Di sisi lain, harga timah dunia terus merangkak naik. Tahun ini, harga timah tinggi, antara US$ 25.000 hingga US$ 30.000. Harga ini meningkat 15 persen dibanding ahun 2010 sebesar US$ 19.500. Menurut dia, harga yang tinggi itu masih menguntungkan karena PT Timah merupakan salah satu produsen timah terbesar di dunia. "Apalagi tingkat konsumsi juga tinggi," terangnya.
MUHAMMAD TAUFIK





