Bendungan Raksasa Ditargetkan Rampung 2025

TEMPO Interaktif, Jakarta -Bendungan raksasa yang akan dibuat untuk mengantisipasi peningkatan air laut dan penurunan tanah di Jakarta direncanakan akan rampung sebelum 2025. Pembangunan bendungan hasil asistensi itu merupakan buah jalinan kerja sama Sister City 2011-2012 antara Jakarta dan Rotterdam.

Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo mengatakan, kajian strategis sedang digodok dan direncanakan rampung pada Mei mendatang. Sedangkan master plan akan disusun selama dua tahun.  "Proses pembangunan bendungan sekitar 10-15 tahun," kata Gubernur seusai mengikuti Pertemuan Tingkat Tinggi dengan Delegasi Rotterdam, di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, sore ini.

Gubernur menerangkan, pembangunan bendungan yang juga melibatkan Bappenas dan Kementerian Pekerjaan Umum ini ditargetkan kelar sebelum 2025. Target waktu itu ditetapkan untuk mengantisipasi kondisi muka tanah Jakarta yang semakin menurun dan meningkatnya volume air laut.

"Para ahli mengatakan, sebelum 2025 kemungkinan terburuknya akan tenggelam. Nah, kita akan mengantisipasinya dengan bendungan ini."

Pembangunan ini memiliki dua skenario. Skenario pertama, bendungan memiliki waduk tambahan seluas 100 kilo meter persegi yang dilengkapi dengan polder atau sistem penyedot yang mengembalikan air ke laut. Yang kedua, bendungan ini dilengkapi pompa di pintu air yang bisa memompa air dengan kekuatan 500 meter kubik air per detik. Pipa sepanjang 50 kilo meter akan dipasang ke tengah laut untuk membuang air ke sana.

"Pompa ini akan jadi yang terbesar di dunia," kata Gubernur. Pompa bendungan yang paling besar saat ini ada di Mesir dan New Orleans dengan kekuatan 450 meter kubik air per detik.

Selama rentang waktu proses pembangunan bendungan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan memperketat pemakaian air tanah, guna mencegah turunnya tanah secara signifikan. Pihaknya akan memperketat aturan dan memperberat sanksi mengenai pemakaian tanah. "Secara gradual pemakaian air tanah akan dikontrol," ujar Foke.

Dalam waktu dekat, Pemerintah Jakarta akan membangun sistem penjernihan air di Jati Luhur, Jawa Barat. Nantinya, Foke menjabarkan, air bersih yang diproses di sana akan didistribusikan ke Jakarta lewat pipa sepanjang 75 kilo meter. "Tiga tahun lagi akan berfungsi," janjinya. Proyek sistem penjernihan air ini dimaksudkan untuk meminimalisir pemakaian air tanah di Jakarta.

Menurut Senior Consultant Rotterdam Climate Proof, John Jacobs, Rotterdam dan Jakarta menghadapi masalah yang mirip, karena sama-sama berada di bawah air laut, khususnya di wilayah utara. Perbedaannya, kata dia, pengelolaan air di Rotterdam sudah jauh lebih baik.

HERU TRIYONO