foto

Djoko Suyanto (mimbar), Hatta Rajasa (2 kanan), Agung Laksono (kanan), Andreas Yewangoe (3 kiri), Ichwan Syam (2 kiri) dan Mgr Martinus D Situmorang. ANTARA/Widodo S. Jusuf

Dipo Alam: SBY Bukan Marcos

TEMPO Interaktif, Jakarta - Sekretaris Kabinet Dipo Alam menyesalkan pernyataan dua tokoh lintas agama Mgr Martinus Situmorang dan Romo Benny Susetio yang menuding presiden mengeluh soal gaji. “Padahal tidak benar itu,” kata Dipo kepada Tempo, Selasa (8/2) malam.

Dipo justru menduga dibalik tudingan dua tokoh agama itu ada maksud tertentu. Menurut dia mungkin saja, Romo Benny dan Martinus bermimpi menjadi Kardinal Sin sebagai penggerak people power dan menjatuhkan Presiden Ferdinand Marcos di Filipina.

"SBY bukan Marcos. Ibu Ani Yudoyono bukan Imelda Marcos. Indonesia bukan Filipina. Sebagai orang yang mendukung SBY, saya tersinggung," kata Dipo yang saat ini mendampingi SBY di Kupang untuk memperingati Hari Pers Nasional.

Dipo juga menyesalkan pernyataan dan tindakan ke dua tokoh itu  yang menilai Presiden SBY melanggar UUD 1945, membodohi publik, dan ingkar janji. Dipo mempertanyakan apakah umat Katolik dirugikan atau merasa didzalimi oleh pernyataan SBY. Jika dirugikan, pihaknya siap berdialog. “Jadi kedua tokoh itu tak perlu berbicara sekasar itu,” ujarnya.

Karena itu, Dipo akan menemui Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo dan mempertanyakan mengapa ada pastor yang omongannya kasar. Menurut Dipo, komentar dan tindakan kedua tokoh lintas agama itu sudah merambah wilayah politik praktis. “Pernyataannya sudah jauh dari etika agamanya,” ujarnya.

Eni Saeni